DECLUTTERING & ORGANIZING GEMAR RAPI

Permohonan Maaf

Assalamu’alaikum wr.wb…

saya akui saya ini pecinta berat Marie Kondo. belum pernah saya jatuh cinta seperti itu pada suatu sosok, hihi. Bolehlah saya dikatakan mengidolakannya. Sebab pertama kali saya baca life changing saya merasa hidup saya mirip dia yang suka berbenah. Sejak kecil bahkan. Jadi seolah membangkitkan semangat diri ini “berbenah itu baik”.

Bedanya : dia belajar lebih cepat dan banyak kemudian sebagai profesional, saya sendiri recehan. Saya menjadi ‘tukang bersih-bersih’ sejak SD, saya dipanggil orang dan diupah untuk membersihkan rumah 🙂 kadang dilibatkan oleh nenek (emak) ikut berbenah di rumah orang. SMP juga membersihkan rumah guru, tetangga, saudara, pun hingga SMA juga. Baru berhenti menjadi ‘tukang bersih-bersih’ setelah kuliah. Jika Marie Kondo berbenah karena ortunya sibuk, saya berbenah karena kondisi ekonomi. Kalo saat itu saya leha-leha maka saya ngga bisa beli buku sekolah. Bahkan hampir semua seragam saya, dapat dari lungsuran setelah berbenah. Dan berbenah itu benar-benar melelahkan kala itu. Belum lagi mengingat penyakit tulang saya (lahir kondisi prematur, sering sakit) terkadang harus saya lawan hanya untuk bekerja serabutan. Prinsipnya saya pada waktu itu : “Nik, kau mau sekolah terus?>> lawan dirimu, bersemangatlah cari rezeki, giatlah belajar (hanya karena ngejar keringanan).”

Saya suka Marie Kondo dan sudah nyicil nabung untuk menjadi konsultannya, namun butuh proses karena memang tidak murah biayanya 🙂 namun saya nggak mau menunggu, maka dengan berbekal literatur tulisan beliau di 3 bukunya dan pelatihan udemy (dan grup FB student Marie Kondo) saya ingin berbagi ke teman-teman dan masyarakat. Intinya saya ingin orang merasakan apa yang saya rasakan. Spark joy di rumah, berbenah itu butuh metode untuk mengubah mindset dan bonusnya bisa mengikis inner child saya yang super parah hehe. Bisa dibaca di sini

Karena berbagi juga berkaitan dengan lisensi, adab pertama saya waktu itu ‘kulo nuwun’ atau meminta izin pada pihak mereka. Alhamdulillah boleh. Kemudian tidak boleh, mungkin wajar ya karena pasti ada dinamisasi juga. Jadi saat ini saya bersyukur setidaknya setahun ini dari KonMari ini saya banyak belajar. Apakah saya kecewa? iya, saat itu. Namun dari kejadian itu saya berkesimpulan : “Cinta ini yang paling kekal jangan letakkan pada manusia, namun letakkan pada Yang Maha Kuasa”. Sebab jika meletakkan harapan pada manusia pasti kecewa, namun berbeda jika pada Yang Maha Kuasa…di saat semua orang bahkan menjauhi sekalipun, “Dia tetap memelukmu..”

Dari tulisan saya, ada poin yang belum saya tuntaskan…yaitu terkait rasa kecewa teman-teman pada saya..

Dengan ini saya meminta maaf sebesar-besarnya terhadap tulisan yang sungguh menyakitkan buat teman-teman itu. Demi Allah, nggak ada niat saya menyakiti teman-teman pada saat menulis tersebut, justru saya kecewa dengan tulisan diri saya saat itu karena kurang sabar terhadap pertanyaan “kenapa ngga pakai KonMari lagi” yang bertubi-tubi wapri ke saya (karena beberapa feed IG saya hapus juga tentang KeKonMarian saya dulu, itu beberapa teman sy ngesave ternyata ^^”)

Dari tulisan tersebut saya mencoba mengedit semampu saya.

Suatu hari ada yang bilang gini…

“Mbak Nik ini kan KonMari banget ya pas saya ikut dulu begitu menggebu-gebu.. walo saya hingga detik ini kesulitan melaksanakan metodenya. Kenapa mbak ngga bilang kalo sebenarnya ada kendala di KonMari?”

Jadilah tulisan perasaan yang berbarengan dengan menunjukkan bersama poin kelemahan-kelemahan KonMari itu menjadikan beberapa persepsi teman-teman terhadap saya..

“Saya meminta maaf sebesar-besarnya, saya manusia yang lemah yang tak luput dari kesalahan. Saya bebas dicacimaki, bebas disalahkan..gpp, mungkin dengan itu teman-teman bisa menjadi lebih lega..”

Saya sendiri nggak ada rasa sakit apapun pada teman-teman, karena saya anggap kita semua saudara yang terus belajar bertumbuh.

Oia, ini sharing sedikit aja terkait rasa ini.

Ada kisah lucu nih.. kan sejak kecil -2,5tahunan- saya ditinggal cerai bapak ibu. Nah pas udah SMA tuh saya penasaran kan ke Bapak..gimana sih wajahnya, gimana sih suaranya dan bagaimana sosoknya? karena jujur aja, udah lupa dan ga pernah dihubungi lagi sejak masih jadi anak ingusan.. hehe -_-

jadilah saya pergi pamit ke rumah bapak (tapi izinnya ngerjakan tugas di rumah teman). Karena beda kabupaten, saya dan temen saya naik bis. Saya bilang gini ke temen, “Put (nama temen saya puput), ntar kalo bapakku ngasih jajan banyak dan uang pulangnya bisalah kita mampir ke GM- ini swalayan yang cukup besar di tempat tinggal kami). Doain ya. Trus aku bisa beli hape nokia kayak kamu..haha”

Sesampai disana, ada istrinya bapak dan 2 anaknya. Anaknya banting-banting pintu, sambil melototin saya. Karena sudah siang, saya diberi makan. Ternyata dihidangkan nasi basi dan tulang ikan bekas makan kucing 😀 ya ampun.. Trus bapak muncul “Lho, kamu kok masih hidup?” >> disinilah optimalisasi emosi dan fiksasi perkataan yang menurut saya sudah cukup ‘melatih’ diri ini. Dan jika diingat-ingat, jadinya lucu. Pulangnya ngga bawa uang, justru temen saya yang ngasih biaya pulang 😀

Korelasinya apa?

Mungkin teman-teman marah pada saya sebagaimana pada saat itu saya marah ke bapak saya 🙂 namun saya ngga mau seperti bapak saya yang nggak mau meminta maaf sepatah katapun. Saya ingin menjadi manusia yang lebih maju, yaitu “saya memohon maaf atas semua kesalahan saya pada teman-teman baik yang langsung maupun nggak langsung” atau mungkin karena jadwal wisuda yang tetiba cancel dll. Saya meminta maaf sebagai pribadi.

Dari tulisan ini saya berterimakasih kepada teman-teman, baik saran, kritik membangun dan peringatan-peringatannya sungguh saya butuh itu 🙂

akhir kata… semoga dengan tulisan ini, teman-teman mau legowo memaafkan saya..

Wassalamu’alaikum wr wb..

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *