IBU PROFESIONAL KARYAKU

Petir, Torna dan Dodo

Sebenarnya cerita ini merupakan imajinasi anak saya yang ia tuangkan melalui goresan spidolnya. Anak saya cenderung menyukai gambar dan berkisah melalui ‘gambar’ dibandingkan tulisan yang disusun. Latar belakang cerita ini adalah sebuah film dari NatGeo dan kartun yang sering anak tonton. Menceritakan tentang petir badai tornado. Namun disini, fenomena alam itu saya ubah menjadi cerita 3 karakter yang bernama Petir, Torna dan Dodo.

Nah, berikut ini merupakan cerita yang saya terjemahkan bebas dari beberapa gambar karya putera saya beberapa pekan lalu

Halo, namaku Petir. Kata orang, aku lahir di saat petir berkilat-kilat disertai turunnya hujan. Itulah kenapa banyak yang mengira aku tidak takut petir. Padahal, aku tidak menyukainya, petir itu membuat mataku silau. Apalagi suara gemuruh guntur yang menggelegar. Aku hendak protes pada ayah ibuku, sayangnya mereka tidak setuju mengganti namaku.

Baiklah, mau gimana lagi, aku terima namaku begini saja. Walaupun aku menjadi tidak percaya diri. Aku malu. Namun aku masih mau berangkat ke sekolah, sekolah baru sih, karena aku dan orangtuaku baru berpindah kesini. Tapi aku cukup nyaman, di hari pertama sekolah aku punya dua teman yang baik. Mereka bernama Torna dan Dodo.

Torna bukanlah anak asli Indonesia, ia berambut pirang dan matanya berwarna biru. Dari keseluruhan murid di kelas, ia paling menonjol. Sayang, bahasa Indonesianya patah-patah, tapi ia memiliki sikap yang paling berani dari semua siswa. Torna pernah menolongku saat aku jatuh terjerembab dari sepeda.

Sedangkan Dodo, nama aslinya Widodo. Ia lelaki yang menggemari karya seni. Dari Dodo, semua tugas karya seniku lumayan tertolong. Jika tidak, mungkin detik ini ayah ibuku akan memberiku les tambahan seni. Tentu saja itu membosankan, menurutku, daripada berjam-jam duduk di depan kanvas lebih baik mengerjakan soal Matematika saja.

Kami bertiga dijuluki ‘Fenomena Alam’ oleh kawan-kawan di kelas.

Pada suatu pagi, aku punya ide bolos sekolah. Kebetulan tidak jauh dari kebun belakang sekolah terdapat aliran sungai yang jernih dan ikan sungai ada didalamnya. Kuajak Torna dan Dodo untuk menemaniku.

“Torna, ikut yuk, kita tangkap ikan dekat kebun belakang.” Ujarku, sebelum bel masuk kelas.

“Wah, ide bagus itu, aku pasti ikut! Cause you’re my best friends.” Jawab Torna, ia berbinar penuh semangat.

Berkebalikan denganku, Dodo justru tidak sepakat. Menurutnya, hal yang kami lakukan akan berbahaya jika tidak diawasi Ibu Guru.

“Tir, mending kita usulkan saja ke Bu Nina. Kita mau belajar di sungai.” saran Dodo padaku.

Bu Nina wali kelasku, saat ini kami duduk di kelas 5 sekolah dasar. Aku bingung, apakah aku harus memberikan pendapatku pagi ini?

“Takut aku Do, aku tidak seberani itu.” dadaku berdegup keruh.

“Well, we’ll see, jika kamu mau belajar lebih baik, of course mulai dari saat ini. Ayo maju, let’s talk about that.” Tambah Torna, malah berbalik mendukung Dodo.

Tentu aku tidak menyangka kedua sahabatku ini mendorongku untuk maju menyampaikan pendapat ke Bu Nina. Apalagi pagi ini, waktu belajar yang paling penting dari semua mata pelajaran yang beliau sampaikan, Ilmu Pengetahuan Alam.

Tiba-tiba bel berbunyi, kesempatanku habis sudah untuk bolos pagi ini. Aku terduduk lesu, semua siswa juga sudah tertib menyambut Bu Nina menuju kelas.

Bu Nina menyiapkan LCD dan kami memutar sebuah film. Fenomena Alam. Kami melihat bersama-sama fenomena petir, namun tiba-tiba Bu Nina berdiri menghampiriku.

“Petir, lihat ke depan. Kenapa kamu dari tadi terlihat gusar?” Ucap Bu Nina menatapku lekat-lekat.

Aku ketakutan, tentu ini hal yang tidak biasa, Bu Nina biasanya tidak begini.

“Oh, tid… tidak apa-apa Bu.” Jawabku, tentu tidak enak rasanya menjadi pusat perhatian satu kelas.

“Kalau begitu, karena kita sedang membahas petir, itu sesuai namamu kan, Petir boleh maju dan menjelaskan ke depan.”

Mataku membelalak, tentu ini kesempatan emasku, tapi antara semangat dan degup jantungku tak seirama. Rasanya peluh sudah berceceran, aku grogi. Bercampur dengan rasa takut.

“Come on! You can do it!” Teriak Torna padaku. Sekelas langsung bergemuruh, memberi sambutan ‘ayo, ayo, maju, maju’.

Akhirnya aku maju dan mencoba menjawab pertanyaan Bu Nina.

“Kenapa namanya Petir Wardhana?” tanya Bu Nina padaku.

“I..iya Bu, karena lahir ada petir.”

Sekelas terbahak-bahak. Semakin berdeguplah dadaku.

“Stop, stop. Kita tidak boleh menertawakan nama teman ya. Karena nama itu memiliki arti yang membawa pesan. Petir, kamu tahu apa manfaat petir?”

Aku menggeleng. Tentu aku menjadi semakin malu jika seandainya petir tak punya manfaat.

Petir itu menghasilkan nitrat yang dibawa oleh hujan yang bagus buat tumbuhan, petir juga menghasilkan ozon untuk menutupi sinar ultraviolet. Jadi petir itu sebetulnya sahabat kehidupan. Nah, Petir juga begitu. Jangan pernah takut ya terhadap namamu sendiri.”

Sekelas bertepuk tangan, memberikan dukungan padaku. Aku tak menyangka jika Bu Nina ternyata cukup hangat orangnya.

“Te..Terimakasih Bu.”

Di akhir kelas, Bu Nina mengucapkan terimakasih dan memberikan pengumuman.

“Hari Rabu, Jadwal pelajaran IPA lagi. Saatnya Torna dan Dodo yang maju ke depan ya. Karena kita akan membahas..”

“Toorrnadooooo…” Seisi kelas kompak menjawab tanpa perlu aba-aba dari pemilik namanya.

Torna nampak sangat bersemangat. Sementara Dodo malah asyik melukis di kertas, kulihat ia sedang merangkum mata pelajaran pagi ini dengan goresan gambar tangannya.

“Bu, Bu Nina!” Tanganku tiba-tiba kuacungkan sendiri.

“Ya? Ada apa?”

“Ka…kalau belajarnya di luar kelas bagaimana Bu?” Lidahku bergerak begitu saja, reflek berucap.

“Oh, tentu boleh Petir. Nanti kita belajar di luar kelas jika sudah masuk materi yang bisa eksplorasi di luar ruangan.”

Aku mengangguk tersenyum dan segera berlari menuju Torna.

“You did it! You did it! cool !” Torna merangkulku, dan kami berjalan beriringan menuju kantin sekolah. Torna mentraktirku karena aku sudah berhasil mengalahkan rasa takut dan ketidakpercayadirianku.

Ternyata di sekolah baru ini, aku mendapat banyak guru dan teman yang baik. Terimakasih kawan-kawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *