#PRAMATRIKULASI – Membuktikan Cinta (Part 3- Habis)

Pagi ini suasana masih sangat dingin, sikecil belum bangun. Abinya sudah berangkat ke gedung alumni untuk rapat bersama dekan dan anggota ikatan alumni IPB mewakili beberapa angkatan.

Saya terbangun dan karena sedang tidak sholat, maka setelah meminum beberapa gelas air putih (rutinitas sebelum dan sesudah bangun tidur sejak kecil) saya menyalakan komputer. Menulis tugas kelas Matrikulasi IIP.

Sambil menunggu komputer sedikit ‘hangat’ saya membuka beberapa paket konsumen yang perlu dicek dan dikirim. Sebagai mompreneur pekerjaan seperti ini sangat mengasyikkan, walaupun sudah libur semester tapi aktifitas didalam rumah tidak juga libur. saya menikmatinya, karena beban kewajiban lebih besar daripada waktu yang tersedia.

Seperti biasa, saya mengulas kegiatan kemarin.

Sejak pagi, Syahid membantu abi dan umi di dapur dan mencuci pakaian. Sebagai tim hore lebih tepatnya. Tangan mungil bayi dua tahun itu memang gesit, cekatan jika diminta tolong mengambil sesuatu. Beres pekerjaan rumah, Syahid bermain bersama di ruang keluarga. Bermain kereta api, mobil-mobilan, lego, plastisin, baca buku secara acak. Hingga siang hari ia tertidur.

Menjelang malam Syahid meminta baca buku dan lompat kesana-kemari bergembira dengan pencapaian motorik kasarnya yang baru – bisa melompat- dan tertidur pulas bobo malam. Walaupun sering bangun meminta minum 😀

saya hanya ingin flashback sejenak merenungi segala hal dan mensyukuri semua ini.

Dulu, ketika saya masih kecil, jangankan cinta itu dibuktikan oleh kedua orangtua saya, justru mereka membenci saya -walaupun saya berusaha berprestasi setiap hari. Orangtua bercerai yang disalahkan malah saya sebagai anak -yang membuat beban. saya tidak pernah berani mengungkapkan hal ini selain kepada psikolog ketika saya masih kuliah.

Walaupun miskin, PLN dan air tidak punya, rumah dari bambu bahkan makanpun berhutang namun Nikmah kecil selalu mempunyai keyakinan bahwa semua itu pasti berlalu, sempat saya berani tulis di Kisah masa kecil nan pahit.

Banyak orang mencibir, “anak terbuang” kok mau sekolah tinggi, mimpi kali ye! semua itu tidak saya dengarkan, malah semakin berpacu dengan waktu untuk berusaha secara optimal.

Sekolah bebas biaya, masuk perguruan tinggi -zaman itu tidak ada bidik misi- juga alhamdulillah ada jalan. Jangankan meminta uang bulanan, justru setiap bulan saya selalu setor dan kirim uang ke rumah di kampung. jadi, jika semua orang menganggap orangtua adalah sumber dari segala sumber kehidupan anak maka itu tidak saya benarkan (dalam hal materi). Namun jika dalam hal cinta, kasih sayang, saya akui : BENAR.

Lantas apa korelasi antara rasa cinta orangtua pada anak dengan kehidupannya?

Mungkin kita selalu berfikir bahwa membuat anak sholeh itu wajib karena hanya doa anak sholeh yang mampu menembus langit-Nya. Namun apakah kita sebagai orangtua sudah berusaha akan hal itu (mensholehkan anak, mencintai anak sepenuh jiwa)? saya rasa tidak semua ortu mampu merealisasikan secara konsisten.

Membuktikan cinta ada beberapa bentuk, memang. namun khusus untuk balita hal itu perlu diungkapkan dalam perkataan dan perbuatan juga. Sikap lembut, rasa sayang, sabar, mengarahkan anak pada kebenaran, tidak berbohong, dll.

saya merasakan betul hingga saat ini bahwa tidak ada bonding apapun kepada ibu kandung, kenapa? selain tidak mendapatkan asi darinya juga tidak ada aktifitas fisik juga. Lantas bagaimana saya bisa merekam semua perasaan cinta.

Berbeda dengan perasaan saya ke emak (nenek saya). Emak selalu ada di setiap saat ketika saya masih kecil, ketika sakit bahkan saat sekolah pertama kalinya diantar. Emak yang mengajarkan baca tulis, emak juga yang menyuruh saya ngaji dan menjadi anak yang berprestasi supaya tidak keluar biaya saat sekolah (karena kemiskinan), dan masih banyak lagi.

Dulu, saya pernah membenci sebuah pernikahan karena sangat membenci ayah dan ibu secara tunai total. ibu yang meninggalkan di kala saya sakit, ayah yang tidak mau menafkahi sepeserpun setelah usia saya 2 tahun, dll. namun saya berkaca pada kehidupan emak dan kakek yang sangat miskin namun tetap berjuang dengan rasa penuh cinta (walaupun tidak diungkapkan dalam lisan). sejak saat itu, figur ayah dan ibu saya hapus. berganti dengan kakek dan nenek (emak).

Seiring berjalannya waktu setelah saya menikah dengan laki-laki sunda (ini juga berpengaruh pada pernikahan ya, melihat sosok dari suku, entah kenapa saya jadi ‘alergi’ dengan laki-laki suku jawa karena saya -termasuk ayah- adalah keluarga jawa) kehidupan saya jauh lebih tenang. Masa lalu pahit tidak perlu ditelan dan disimpan, lebih baik dijadikan pelajaran dan hikmah dalam menjalankan kehidupan.

Bersyukur.

Apapun bentuk orangtua kita, faktor penentu kesuksesan tidak 100% dari mereka. saya bahkan menjumpai seorang teman yang kedua ortunya sangat sholih, kaya raya juga, sangat baik, lembut namun teman saya ini justru tidak mau lanjut kuliah, pacaran dan MBA (married by accident). Tapi ada juga dong, yang ortunya sholih dan baik, anaknya sukses dan sholih sholiha, banyaakkk.

Lantas, untuk apa ortu mendidik anak dengan cinta ini?

Bukan untuk anak kok. tapi untuk dirinya sendiri. untuk ortu itu sendiri, titik.

Anak adalah amanah besar dari Allah. anak pula yang kelak dijadikan hisab dirinya di yaumil akhir. Dan kelak ketika ortu sudah sepuh, apakah anak mau mengingat, berbakti, mendoakan padanya atau justru sebaliknya, menjauhi. itu semua ‘tabungan’nya sendiri, efek dari sikapnya sendiri.

Minta doa siapa lagi jika bukan doa anak-anaknya (yang sholih) yang tembus ke alam barzakh? Namun apakah kita sebagai ortu sudah berikhtiar untuk hal itu. (jawab sendiri didalam hati)

Imbalan berupa pahala itu memang abstrak bagi yang tidak memiliki iman, jauh lebih berharga dibandingkan dengan materi yang sekejap saja di mata. Maka sejatinya ortu yang tulus memang tidak akan meminta apapun ke anak, tidak memaksakan atau ‘menitipkan’ impian ke anak bahkan kalau bisa memang mau mengantarkan anak menemukan potensi diri serta mengembangkannya.

Seorang anak ingatannya 70% berada pada masa balitanya. Karakter, pembawaan, emosi dan segala hal yang tidak nampak itu ditabung saat masih kecil, saat mereka belum bisa bicara. Saya sendiri juga heran, saat cleansing innerchild semua muncul secara sempurna di depan mata diri saya ketika masih kecil. Sedangkan ingatan masa sekolah (SD-kuliah) tidak secermat itu, ajaib ya. Lima tahun pertama yang sangat berdampak.

Maka, mencintai anak memang perlu diungkapkan disampaikan dan diulang berkali-kali supaya anak merasakan energi positif itu.

Mungkin saya termasuk anak broken home yang beruntung, walaupun kedua ortu membuang diri ini namun banyak cinta dari kakek nenek, guru di sekolah dan senior. saya berusaha tidak membawa dendam kepada anak (seiring proses cleansing berjalan). Namun, bagaimana dengan nasib anak broken home lain? bahkan ada beberapa teman yang meninggal di usia muda karena kedua ortunya bertikai dan berpisah. Jangankan yang broken home, yang keluarganya utuh pun juga ada yang tragis. Ya Allah….

Membuktikan cinta memang perlu kerjasama. Bersama pasangan tetapkan visi misi di awal, jangankan ‘anak ini mau dididik seperti apa’, kita sendiripun juga harus berkomunikasi jelas (kalo bisa sebelum akad terucap- bagi yang belum nikah) bahwa prinsip-prinsip apa yang mau kita pertahankan nanti.

Semua hal tidak luput dari doa. Dulu, saat masih kuliah, mentor saya selalu bilang “doa yang detail, jelas mau kalian apa”

maka saya sempat menuliskan panjaaaang kriteria jodoh diantaranya yaitu : bukan suku jawa (dapet sunda), bukan ITS -ini gak penting sih wkwkwk karena saya sendiri ITS, punya saudara banyak -karena saya tunggal- dapet alhamdulillah suami kakak 7 dan adiknya ada 7 (BIG FAMILY), sabar, punya prinsip abcde, suka baca, gak boleh ada TV bahkan sampe tinggi badan juga saya tulis minta yang tinggiiii (efek saya pendek hehe-dapet suami 176cm).

saat menikah jauh lebih banyak yang seharusnya didiskusikan. mulai dari sifat, hobi, kesukaan dan hal yang gak disuka selalu usahakan komunikasi- walaupun melalui gawai (hp) misal.

Lha malah jadi kemana-mana -_- beginilah kalo saya menulis bebas, gak terarah jadinya. Wkwkwkwk

jadi kesimpulan dari tulisan saya ini apa?

Intinya tetaplah ikhtiar membuktikan cinta dan kejar capaian yang tertinggal dari anak. dengan banyak belajar dan ikut kelas ibu. seperti ikut kelas IIP ini.

Ingat bahwa, mendidik anak laki-laki sama seperti mendidik calon suami, calon ayah, calon pemimpin, calon imam.
mendidik anak perempuan sama dengan mendidik calon istri, calon ibu, anggota masyarakat pembentuk dan pembawa estafet sebuah peradaban.

Semangat IIP Bogor.

Bogor, 8.24 WIB

#Day3
#ODOPPreMatrik
#MulaiMenulis
#IIPBogor

One Reply to “#PRAMATRIKULASI – Membuktikan Cinta (Part 3- Habis)”

  1. […] telah mengikuti kelas pra-matrikulasi (dengan tugas Membuktikan Cinta 1, Membuktikan Cinta 2 dan Membuktikan Cinta (Part 3- Habis).Kemudian mencoba test drive di Classroom sebelum masuk materi matrikulasi dan Alhamdulillah lulus […]

Tinggalkan Balasan