MINDFULNESS REVIEW

[Review Buku] Going Offline

Seperti janji kemarin, saya akan posting review buku lanjutan dari hidup sederhana Desi Anwar, Going Offline. Buku yang cukup relevan dengan kondisi terkini, dimana media sosial menjadi dilema untuk sebagian orang, termasuk saya. Dan inilah buku yang membahas pemikiran Desi Anwar seputar menemukan jati diri di dunia yang penuh distraksi.

Detail Buku

  • Judul : Going Offline, Menemukan Jati Diri di Dunia Penuh Distraksi
  • Penulis : Desi Anwar
  • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
  • Jumlah Halaman : 251 halaman + ix
  • Tahun Terbit : 6 Januari 2020
  • Genre : Non-Fiksi
  • Isi : Melalui media sosial dan realitas virtual, kehidupan online membuat kita terus terhubung dan selalu aktif. Ponsel cerdas kita adalah benda pertama yang kita raih saat bangun tidur dan yang terakhir kita letakkan sebelum tidur. Layar kecil di tangan kita itu memberikan kenyamanan, persahabatan, dan rangsangan yang membuat kita terus-menerus tertarik dan bersemangat serta mengalihkan perhatian kita dari dunia nyata. Bersamanya, kita jarang merasa bosan atau punya waktu untuk hanya duduk diam dan melamun.
    Meskipun memberi kita banyak manfaat, tidak seharusnya kehidupan online menghilangkan kita dari kesenangan hidup di sini saat ini dan berinteraksi dengan dunia fisik. Seharusnya, kehidupan online tidak membuat kita lupa bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang nyata dan menghargai keindahan lingkungan kita, serta tidak membuat kita tersesat dalam gangguan terus-menerus.

Review

Saya membaca buku ini tahun 2020, awalnya karena mengikuti zoom meeting Abu Marlo kemudian menemukan kilas balik dari salah satu konten di youtubenya yang mengundang Desi Anwar. Kebetulan saya butuh juga, kondisi saat itu cukup overwhelmed terhadap gadget dan segala hiruk pikuk medsos. Sampai saya berkali-kali untuk install dan un-install aplikasi tetap saja terasa bisingnya. Kemudian saya membeli buku ini dari seorang teman yang menjualnya preloved di marketplace miliknya. Setiba buku ini, penuh semangat saya baca dan sampai di halaman akhir, puas rasanya.

Bagi yang ingin tahu review langsung buku ini, ada di youtube Abu Marlo.

bedah buku ‘Going Offline’

Buku ini relate banget dengan kondisi dunia yang saat ini semua terfokus pada gadget. Apalagi di masa pandemi, tak bisa kemana-mana, semakin melekatlah diri pada layar ponsel pintar. Efeknya, perasaan dan pikiran yang tak penting mulai merasuki. Kegundahan diri dan hilangnya jati diri mulai terasa sebab adanya interaksi yang terlalu melekat pada beberapa aplikasi setiap hari, yang bernama media sosial. Walau tarafnya tidak parah, namun saya merasa perlu untuk membenahi diri ini.

Terdapat dua part inti dari buku Going Offline yaitu mengapresiasi hidup dan kehidupan, dan seni kehidupan. Apa bedanya?

Mengapresiasi Hidup dan Kehidupan

Part pertama ini lebih banyak menggali ke dalam diri dan menelisik jiwa agar mampu menangkap dan peka terhadap sinyal sekitar dan alam raya. Mulai dari kemampuan mendengarkan, cara memperhatikan, beragam dunia fiksi, membangkitkan kreativitas hingga cara mengapresiasi itu sendiri.

Hal yang paling memikat dari semua penjelasan di bagian pertama ini berkaitan dengan kebiasaan membaca. Saya merasa apa yang dikatakan Desi Anwar di sana sangat benar dan memang demikian adanya. Sebagai penggemar aktifitas membaca, saya mengira gagasan yang dia sampaikan sungguh tajam dan menguatkan diri untuk terus membaca, apapun itu. Menurutnya, betapa miskinnya hidup tanpa bacaan. Hidup yang dipakai atau dijalani hanya dengan menulis pesan pendek dan ngobrol ngalor ngidul. Atau hidup yang cuma dihabiskan dengan scrolling internet dan memutakhirkan status.

Sesunggunya membaca itu merupakan latihan bagi otak, meningkatkan kemampuan berbahasa kita, memotivasi diri, memuaskan rasa ingin tahu, membuka pikiran dengan cara-cara yang tak didapatkan di kehidupan sehari-hari. Dan paling penting dari aktifitas membaca menurut saya adalah kinerja otak saya menjadi utuh, single tasking, sebab membutuhkan hening, fokus dan di sinilah keajaiban kekuatan otot otak itu bekerja.

Seni Kehidupan

Di bagian kedua, lebih panjang isinya dibanding bagian pertama. Sebab membicarakan tentang berbagai distraksi yang muncul dan kebanyakan dari eksternal diri kita. Dan lebih banyak membahas tentang media sosial. Ada kutipan yag cukup menggelitik pada buku halaman 66 :

Sesungguhnya kita kian menjadi bergantung pada sepasukan teman maya ini yang persetujuannya kita nantikan, apakah dalam bentuk like, jempol atau jantung-hati, dan yang berkomentar setiap kali kita mengunggah foto, kegiatan terbaru, apa yang kita santap, dan apa yang bersemayam nun jauh di dalam pikiran kita.

-Going Offline, 66

Mengerikan! Dan nyata adanya. Belum lagi jika berkaitan dengan social dilemma yang kapan lalu saya tulis di sini, dan kekahawatiran saya terhadap gadget yang semakin hari semakin menarik hati yang saya tulis di sini. Saya masih terus berupaya untuk mengontrol ini semua.

Kekurangan dari buku ini

Karena saya membaca buku sebelumnya juga, Hidup Sederhana, begitu banyak kalinat, cerita yang diulang-ulang dan sama ada pada buku ini. Jika boleh saya sarankan, jika teman-teman sudah membaca Going Offline, itu sudah cukup untuk merangkum semua dari buku sebelumnya. Ibarat jurnal, ini buku yang paling updated dan lengkap.

Kesimpulan

Sama halnya dengan judul chapter pada bab terakhir buku ini, mengembalikan sesuatu pada tempatnya. Saya berharap buku ini mampu mengembalikan jati diri kita pada awal dan tenpat asalnya. Begitu banyak pikiran yang perlu disaring, akibat dari monkey mind yang menjerat. Ngobrolin monkey mind, next time, insyaaAllah saya mau bahas buku tentang ini, judulnya Don’t Feed the Monkey Mind, buku yang juga saya baca tahun 2020 lalu.

Semoga berkenan.

Tinggalkan Balasan