REVIEW

[Review Buku] Successful Time Management, How to be Organized, Productive and Get Things Done

Hari ini, saya ingin mereview sebuah buku yang berkaitan dengan jurnal bunda cekatan yang akan saya setorkan besok di post blog setelah postingan ini. Saya anggap, membuat review buku ini sebagai ‘camilan’ dari menu utama tugas saya yang berkaitan dengan topik manajemen waktu.

Saya mendapat buku ini, tahun lalu, saat itu saya berniat untuk memperbaiki dan mengatur waktu pribadi, sayangnya masih dalam angan belaka alias masih berada di tataran sebagai ‘wawasan’ hingga hari ini. Sebab pada praktiknya, menata waktu, saya masih pontang-panting. Maka, saya harus menggunakan cara lain agar wawasan itu menjadi ilmu yang melekat. Salah satunya dengan mengulasnya. So, let’s check this out!

Details

  • Judul Buku : Successful Time Management, How to be Organized, Productive and Get Things Done
  • Penulis : Patrick Forsyth
  • Tahun Terbit : 2019
  • Penerbit : Kogan Page Publisher
  • ISBN : 978-0749498887
  • Jumlah Halaman : ix + 175 halaman

Btw, bagi yang belum kenal sama penulisnya, teman-teman bisa langsung ke websitenya ya. Di tautan http://www.patrickforsyth.com/about-me.html . Ia merupakan seorang ahli management skills, komunikasi, ahli marketing dan sales, pembicara di berbagai lini bidang serta penulis lebih dari 100 judul buku yang sudah mendunia. Kalau dilihat dari usianya, sudah eyang-eyang ya. Alias seumuran dengan kakek-nenek saya, kelahiran tahun 1940-an. Namun dia begitu energik dan produktif. So, tak salah lagi jika saya ingin belajar menata waktu dari karya bukunya.

Apa Garis Besar isi Buku ini dan Insight yang Didapat?

Kalau dibaca dari prefacenya, sebenarnya ini buku lawas. Sudah ada sejak 1994, kemudian diperbaharui hingga menjadi edisi ke-lima yang pada akhirnya terbit tahun 2019 dan sampai di tangan saya (alias masuk ke e-reader) pada 2020 lalu. Dan baru saya buka baru-baru ini (parah ya, hehehe) awal tahun 2021 tepatnya awal bulan Februari.

Buku ini didisain untuk praktik, bagaimana caranya kita bekerja dan menaikkan level karir melalui manajemen waktu. Namun tetap ada teori dan membedah pola pikir juga sih. Penulis memberi fokus dan gambaran utuh bahwa dari seluruh aset yang dimiliki manusia di dunia, yang terpenting dan paling esensial adalah aset berupa waktu. Ya, kuncinya ada di manajemen waktu!

Di post blog ini saya mencoba untuk merangkum dari chapter per chapter isi buku. Setidaknya ada beberapa hal yang saya tangkap setelah membacanya (walau belum mempraktikkannya secara utuh), setidaknya menjadi gambaran apa isi buku serta plus-minusnya.

Pro

Oke, saya mulai dari chapter 1, dengan judul topik ‘Time, a key resource : opportunities and difficulties‘. Pada bab ini, penulis mengatakan bahwa keahlian pengelolaan waktu bukanlah keahlian yang menjadi opsional (pilihan) semata. Justru ia menjadi hal yang paling utama jika seseorang ingin bekerja secara efektif dan sukses dalam hidup. Walau kendati (sungguh) tak mudah, namun jika kita belajar dan mau memperbaikinya, hal itu akan mengubah seluruh hidup (apapun yang kita geluti dan tekuni nanti).

Keahlian mengatur waktu ditentukan oleh 2 hal pokok :

  1. Bagaimana kita membuat perencanaan (how you plan your time).
  2. Dan bagaimana kita mengimplementasikannya dengan detail apa yang sedang kita kerjakan (how you implement the detail of what you do).

Jika kita bisa mengaturnya maka setiap waktu akan menjadi peluang (opportunities) menuju kesuksesan hidup. Pun sebaliknya, jika tidak pandai mengelolanya, ia akan menjadi bumerang, menyusahkan diri kita sendiri (difficulties).

Bagaimana cara merencanakannya? Setidaknya ada beberapa faktor yang perlu kita perhatikan dari buku ini.

  1. Making it work. Intinya jangan bikin rencana yang malah membuat kita terpuruk atau merasa berat. Buat rencana yang memang bisa dikerjakan. Tak perlu muluk-muluk.
  2. A personal approach. Ini penting, pendekatan pribadi artinya kita perlu tahu kekuatan diri dan kemampuan. Jangan maksa. Ahahahaha. Dan tentunya kita perlu belajar mengolah etika, kebiasaan dan mengakui waktu-waktu yang berharga terjadi di setiap detik.
  3. The productivity gain. Fokuskan setiap waktu kita untuk meningkatkan produktifitas, bukan sebaliknya.
  4. Speculate to accumulate. Artinya kita perlu menyiapkan plan abcd, jangan hanya satu jenis dimana ketika terjadi sesuatu di luar kendali, semua akan berantakan. Membuat spekulasi untuk kita akumulasi kedalam jadwal terbaik adalah lima langkah di depan dibanding jika hanya membuat satu rencana.
  5. Perfect time. Ini lebih kepada kapan waktu efektif kita produktif, setiap orang pasti berbeda. Tujuannya lebih kepada menghemat waktu (saving of time).

Chapter kedua membahas tentang ‘First steps towards effective time management’. Yaitu langkah yang dilakukan untuk menuju pengaturan waktu yang efektif. Yaitu :

  1. Menggabungkan pekerjaan atau mencampurnya (your work mix) dengan mengatur melalui cara yang lebih baik. Artinya apapun pekerjaan kita, jika merasa terlalu sering juggling, sebaiknya menggunakan 4 kategori list, jangan sporadis. Keempatnya adalah planning, implementation, monitoring & control, communicating and dealing with people. Terasa kaku ya, kayak lagi kerja di perusahaan besar aja. Eh, emang benar sih, bukankah hidup kita jauh lebih besar dibanding nilai sebuah perusahaan?
  2. Berikan penilaian pada pekerjaan yang saat ini dilakukan.
  3. Ingat bahwa waktu akan pergi di detik ini juga, artinya cek lagi bagan hidup apakah plannable atau reactive.
  4. Buat perencanaan dan kerjakan rencana itu.
  5. Berdamai dengan uncontrollable. Seandainya ada kejadian di luar kendali diri, mari belajar berdamai dengannya.
  6. Bagaimana sistem yang dibuat dalam keseharian bekerja dengan baik? Bisakah benar efektif atau hanya sementara saja. Atau jangan-jangan tidak membuat sistemnya? Contohnya dengan jurnal atau diari atau apapun itu untuk mengamati pergerakan kita. Kalau di kelas menata waktu gemari madyanya gemar rapi, kita menyebutnya dengan ‘time audit’.
  7. Atur objek yang kita tuju dengan jelas. Bisa menggunakan rumus SMART (specific, measurable, achievable, realistic, timed).
  8. Berfikir jauh ke depan. Kita diminta untuk melatih diri : tidak mudah panik.
  9. Menghabiskan waktu untuk menyimpannya. Maksudnya jangan menunda. Karena dengan menyegerakan, akan lebih banyak waktu yang bisa kita gunakan.
  10. Ambil waktu untuk berpikir. Yaitu buat jeda, jangan hanya action tapi berikan waktu untuk memikirkannya apakah hal itu sulit atau masih bisa kita atasi.
  11. Siapkan diri untuk berkata ‘tidak’. Pentingnya mengatakan tidak agar tak menjadi beban task.
  12. To be, or not to be (perfect). Artinya gak ada yang sempurna, apapun itu, agar kita terus berkembang, so, jangan menyerah dan tetap terus belajar.
  13. Work smarter, not longer.
  14. Reward yourself.
  15. Maintaining good intentions.

Mulai chapter 3, lebih ke hal-hal teknis sih, Getting (and staying) organized. Seperti menyusun jadwal harian, hal yang dilakukan dalam menentukan prioritas, mendahulukan serta konsisten dalam membentuk atau membangun kualitas, membenahi meja kerja dan dokumen, membuat ceklis, list, mengatur jadwal rehat dan seterusnya.

Chapter 4 bicara tentang distraksi dengan judul Combating the time wasters. Disini dijelaskan bahwa seseorang seringkali mudah terjebak terhadap hal-hal yang menyulitkan diri, hal yang tak disukai, terlalu berhati-hati terhadap pekerjaan favorit yang menenggelamkan, sampai di titik over. Maka kita perlu mengecilkan distraksi yang menghampiri bahkan di sela-sela waktu produktif. Sebab tak ada waktu yang benar-benar wasting atau ‘just happens’.

Selanjutnya di bab 5 membahas tentang email, Emails : shortcut or time black hole?. Bab 6 balik ke prinsip First Things First. Bab 7 balik ke teknis dokumen, Controlling the Paperwork. Bab 8 tentang bekerja dengan orang lain, Working with other people. Dan bab 9 penutup, Final words.

Cons

Menurut saya, buku ini memang sudah dari ‘sananya’ jadul. Beberapa hal teknis menurut saya sudah tak relevan lagi dengan kondisi zaman. Misalnya cara mengelola email, menolak panggilan telepon atau membatasi obrolan melalui telepon, serta menguraikan dokumen kertas. Padahal menurut saya, zaman ini, saya pribadi sih, lebih ke arah digitalisasi.

Saya jarang sekali menulis di kertas, mengangkat telepon atau menerima email banyak (mungkin bagi yang pekerjaannya ada di email, jika tak dikelola akan jadi clutter sih). Namun, saya pribadi lebih banyak menghabiskan waktu bukan untuk email atau angkat telepon, melainkan banyaknya task yang hadir, diiringi dengan kurangnya ilmu, atau sudah tahu ilmunya tapi masih belum konsisten menerapkan.

Membaca buku ini seperti kembali ke era awal-awal munculnya internet, wkwkwk. Sampai-sampai ada bab khusus membahas akronim dan jargon dari email serta cara mengirim surel yang efektif. Hingga teknis menautkan link (attachments dan hyperlinks).

Rating

Saya kasih angka 3 deh. 3/5. Karena di chapter tengah, saya merasa buang-buang waktu membacanya.

Penutup

Bicara tentang mengatur waktu, tak pernah ada rumus baku ya sebenarnya. Patokannya memang di latihan, latihan dan latihan. Oke, semangat-semangat!

1 thought on “[Review Buku] Successful Time Management, How to be Organized, Productive and Get Things Done”

Tinggalkan Balasan