MINDFULNESS

[Review Buku] The Things You Can See Only When You Slow Down

Malam ini, menjelang tidur, jadi teringat belum setor jurnal KLIP. Karena saya seharian saling sharing tentang manajemen waktu dan mepet ke topik mindfulness, maka saya jadi kepikiran untuk membahas buku ini, The Things you can see when you slow down, karya Haemin Sunim.

Details

  • Judul Buku : The Things you can see when you slow down
  • Penulis : Haemin Sunim
  • Bentuk buku : e-book
  • Jumlah halaman : 113
  • Penerbit : Penguin publishing
  • Tahun terbit : edisi awal 2012, edisi English translasi tahub 2017
  • genre : non-fiksi
  • kategori : self help
  • bahasa : Inggris
  • ISBN ebook : 9780698156425

Dalam review ini, saya tidak membahas bentuk fisik, karena saya membaca ebooknya. Langsung aja ke inti.

Inti Buku

Buku menjelaskan tentang bagaimana dunia zaman ini tampak sibuk dan diri kita mengiyakannya. Sehingga kita jarang sekali melihat detil dan sisi lain karena restless, tidak ada istirahatnya. Riuh, kikuk, penuh semakin lama semakin terasa dan terbiasa.

Akibat dari minimnya istirahat ‘otak’ atau pikiran, yang ada justru kita jadi tergesa dan bergegas untuk melakukan sesuatu hal sehingga hasilnya tak optimal.

Buku ini terdiri dari beberapa chapter, yaitu sebagai berikut :

  • Chapter 1 : Rest. Disini dibahas kenapa kita merasa sok sibuk atau terlihat tiada istirahatnya, sibuk dan sibuk.
  • Chapter 2 : mindfulness. Disini saya diajak untuk berteman dengan emosi dan hal yang bisa dirasakan saat feeling sedang rendah.
  • Chapter 3 : Passion. Disini dijelaskan tentang menjalani passion. Dimana tujuannya bukan siapa yang benar dan salah, namun kita melakukan passion sebab suatu hal yang membuat kita bahagia.
  • Chapter 4 : Relationships, di sini dijelaskan juga tentang mengelas relasi.
  • Chapter 5 : Love.
  • Chapter 6 : Live.
  • Chapter 7 : The future.
  • Chapter 8 : Spiritually.

Rest (Istirahat)

Ketika terlintas pertanyaan ‘Mengapa saya begitu sibuk?’ Ketika segala sesuatu di sekitar saya bergerak begitu cepat, penulis mulai berhenti dan bertanya, ‘Apakah dunia ini yang sibuk, atau apakah itu pikiran saya?’ ”
Setelah direnungi, ternyata sesibuk apapun kita, ‘dunia’ toh tak peduli, itu hanya ada didalam pikiran sementara. Ketika pikiran kita gembira dan penuh kasih sayang, dunia juga akan bercermin dan akan begitu. Ketika pikiran dipenuhi dengan pikiran negatif, dunia pun tampak negatif.
Maka, saat kita merasa kewalahan dan sibuk, ingatlah bahwa diri kita bukannya tidak berdaya.Justru di saat pikiran kita sedang beristirahat, dunia juga beristirahat.

Kita perlu mengetahui bahwa dunia hanya melalui jendela pikiran kita. Saat pikiran kita berisik, dunia juga sedang (dan tentu tampak) berisik. Dan ketika pikiran kita damai, dunia juga demikian. Mengetahui pikiran kita sama pentingnya dengan mencoba mengubah dunia.

Ada sebuah quotes yang cukup nyentrik dan menarik dari bab ini, jika diartikan seperti ini :

“Kesadaran pada dasarnya murni, seperti langit terbuka. Stres, kesal, dan amarah dapat mengaburkan langit untuk sementara, tetapi tidak pernah dapat mencemari langit. Emosi negatif datang dan pergi seperti awan, tetapi langit tetap terbuka lebar. “

“Orang bijak tidak melawan dunia. Dengan cara yang paling santai dan menyenangkan, mereka hanya mewujudkan kebenaran bahwa mereka menyatu dengannya. “

“Yang membuat musik indah adalah jarak antara satu nada dan nada lainnya. Apa yang membuat pidato fasih adalah jeda yang tepat di antara kata-kata. Dari waktu ke waktu kita harus menarik napas dan memperhatikan kesunyian di antara suara. “

“Dunia akan terus berputar meski tanpamu.”

Mindfulness (Berkesadaran)

Saat kita menerima diri dan pikiran kita apa adanya, pikiran kita menjadi rileks dan tenang, sementara dunia berubah dengan cepat di sekitar kita.
Seseorang tampak mulia dan dihormati bukan karena dia adalah orang yang tahu banyak ilmu atau memiliki banyak wawasan, melainkan ia adalah orang yang mengajarkan banyak hal melalui tindakannya sendiri. Dan tindakan itu adalah tindakan yang terbaik.

Seseorang itu tidak memiliki aura mementingkan diri sendiri, dan justru terkadang rela mengorbankan dirinya terlebih dahulu untuk kepentingan banyak orang.

Spiritualitas itu bukan ada pata kata, tulisan dan kelas-kelas semata, ia adalah hal yang harus dipraktekkan dan tampak dari budi pekerti, tentu butuh proses. Sebab ia akan langgeng, tidak hanya dilakukan ketika dalam kesendirian tetapi juga di antara manusia.
Walau demikian, jika kita terbuka terhadap orang-orang di sekitar dan kita merasa terhubung, sebenarnya inilah tantangan sebenarnya dari latihan spiritualitas itu sendiri. Apakah kita mudah goyah atau justru lebih baik dan fokus?

Passion (Gairah)

Seseorang tidak hidup seperti yang dia inginkan. Dia hidup dengan cara yang dia jalani. Sehingga untuk menjaga gairah, perlu memiliki semangat yang cukup kuat mengakar agar mampu memberikan perubahan, bukan hanya untuk diri pribadi semata.

Secara historis, orang-orang yang membawa perubahan dalam masyarakat cenderung bukanlh orang yang sudah sepuh, tetapi kebanyakan pemuda yang bersemangat. Hati mereka lebih peka terhadap penderitaan yang tertindas. Semangat mereka berdiri teguh melawan ketidakadilan dan berjuang untuk yang dibungkam atau yang tak bisa bersuara. Nah, dalam hal ini, kita perlu memegang hati dan semangat muda itu selalu, tidak peduli berapa usia saat ini.

Relationship (Hubungan/Relasi)

Menurut sarjana Konfusianisme, Jeong Yak-yong (1762–1836) mengatakan bahwa ‘Cara terbaik untuk menyembunyikan kekayaan Anda adalah dengan memberikannya. Jika Anda murah hati dengan kekayaan Anda, uang yang cepat atau lambat akan hilang menjadi permata abadi, terukir dengan dalam di hati penerima.’

Sejatinya seluruh dunia ini saling terkait. Seluruh alam semesta terkandung dalam irisan apel di dalam kotak makan siang. Pohon apel, sinar matahari, awan, hujan, bumi, udara, keringat petani semuanya ada di dalamnya. Truk pengiriman, bensin, pasar, uang, senyum kasir semuanya ada di dalamnya. Kulkas, pisau, talenan, cinta ibu semuanya ada di dalamnya. Segala sesuatu di seluruh alam semesta bergantung satu sama lain. Sekarang, pikirkan tentang apa yang ada dalam diri kita. Seluruh alam semesta ada di dalamnya.

Menurut beberapa psikolog, kebahagiaan bisa dinilai dengan dua pertanyaan sederhana.
Pertama, apakah kita sudah menemukan makna dalam pekerjaan selama ini?
Kedua, apakah kita memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitar kita?

Bagi praktisi spiritual, hubungan atau relasi adalah ujian terakhir. Bahkan jika telah terbangun dengan sifat yang tercerahkan, masih ada perjalanan lebih jauh dalam perjalanan spiritual kita jika kita masih tidak hidup harmonis dengan orang lain. Itulah kenapa, setelah saya selesai membaca buku ini, ketika ada konflik sepele, saya segera memberanikan diri, mengalah, meminta maaf dan secara terbuka merendahkan diri di hadapan orang yang meninggi.

Quotes yang menarik dari bab ini :

“Saat Anda merendahkan diri Anda sendiri, dunia mengangkat Anda. Saat Anda meninggikan diri, dunia menurunkan Anda. Ketika Anda tiba di puncak pencerahan, Anda akan mengerti: Puncak Anda sama tingginya dengan tetangga Anda. “

Love (Cinta)

Tidak peduli seberapa terkenal atau cantiknya seseorang, tidak peduli berapa banyak uang atau kekuatan yang dimilikinya, tidak peduli berapa banyak pencapaian luar biasa yang telah seseorang miliki, kita semua pasti pernah lah yaa mengalami kemunduran, patah hati, dan kehilangan. Tapi kita harus menghadapi tantangan yang tidak dapat kita kendalikan. Kesepian dan ketakutan akan kematian akan menemani kita hingga hari-hari terakhir kita. Setiap orang berada dalam perjalanan berbahaya yang sama dalam perjalanan hidup yang lain. Itulah pentingnya cinta dalam kehidupan, ia mampu meleburkan diri menjadi jiwa yang penuh kebaikan sebab cinta.

Live (Kehidupan)

Saat kita berkonsentrasi, bahkan hal yang receh pun bisa menarik. Jika sedang bosan, mungkin kita tidak akan mudah untuk bisa berkonsentrasi.
Kondisi lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap pandangan hiruk pikuk dunia ni. Dimana kita tingga, maka itulah yang akan membentuk diri kita… Apakah kita tinggal di tempat yang kondusif untuk mengejar impian atau sebaliknya?

Quotes menarik di bab ini :

“Semakin banyak Anda tahu, semakin Anda berpikir Anda tidak tahu. Semakin banyak Anda tidak tahu, semakin banyak yang Anda pikirkan. “

“Ketika kita memegang terlalu kuat pada keyakinan kita, kita berisiko buta terhadap kenyataan dan hanya melihat apa yang sesuai dengan keyakinan kita.”

“Hidup itu seperti jazz. Sebagian besar diimprovisasi; kita tidak bisa mengontrol semua variabel. Kita harus menjalaninya entah siap atau tidak (uncontrolled) dan bakat (talent), terlepas dari apa yang dilemparkannya pada kita. “

“Jagalah agar pikiran Anda tetap positif, karena pikiran Anda menjadi kata-kata Anda. Jaga kata-kata Anda tetap positif, karena kata-kata Anda menjadi perilaku Anda. Jaga perilaku Anda tetap positif, karena perilaku Anda menjadi kebiasaan Anda. Jaga kebiasaan Anda tetap positif, karena kebiasaan Anda menjadi nilai Anda. Jaga nilai-nilai Anda tetap positif, karena nilai-nilai Anda menjadi takdir Anda. ” —MAHATMA GANDHI

The Future (Masa Depan)

Quotes :

“Tidak ada hal yang benar-benar siap. Hidup adalah sebuah petualangan, di mana kita belajar dan menjadi dewasa. Tentu saja, kita harus mempertimbangkan semua pilihan kita dengan hati-hati. Tapi jika kita menunggu kepastian 100 persen, maka seringkali sudah terlambat. ”

“Saat Anda akan membuat keputusan penting, selalu ada momen keraguan tepat sebelum Anda menandatangani di garis putus-putus. Jangan mundur. Anda telah datang sejauh ini setelah memikirkannya dengan serius. Jangan melihat ke belakang. Lanjutkan jalanmu dengan berani, seperti badak bercula satu. ”

Spiritually (Spiritualitas)

“Bagi orang yang belum tercerahkan, tidak setiap hari adalah hari yang baik, karena mereka merasa bahagia hanya ketika sesuatu terjadi seperti yang mereka inginkan. Bagi orang yang tercerahkan, setiap hari adalah hari yang baik, karena mereka merasa bebas mengetahui bahwa tidak ada yang dapat menghilangkan kebijaksanaan mereka. “

Pro-Cons

Pro :
Buku ini cukup ringan, mirip novel flash fiction. Buku ini terdiri dari quotes-quotes yang menarik dibaca.
Cons :
Mungkin yang menyukai pemikiran terbuka dan bisa mencerna perbedaan dari sisi agama, buku ini it’s okay lah. Saya sendiri membaca buku ini untuk mencari intisari. Tapi jika ada yang tak mampu menerima perbedaan, sebaiknya hindari buku ini. Karena 100% isinya bukan dari Islam.

Kesimpulan

Ketika kita begitu sibuk sehingga merasa terus-menerus seolah dikejar waktu, ketika pikiran-pikiran mengkhawatirkan melingkari kepala juga, ketika masa depan tampak gelap dan tidak pasti, ketika kita terluka oleh perkataan seseorang, coba jeda, pelan-pelanlah, meskipun hanya sesaat. Cobalah kita menarik napas dalam-dalam. Dalam keheningan jeda itulah, keseluruhan keberadaan kita, diam-diam terungkap.

2 thoughts on “[Review Buku] The Things You Can See Only When You Slow Down”

Tinggalkan Balasan