DAILY REVIEW RUMBEL MENULIS

Review Taman Topi Bogor

Introduction

Halo, malam minggu enaknya ngapain? Enaknya ngeblog aja. Hitung-hitung aku sendiri mau setor tantangan menulis di rulis, membuat review tempat wisata atau hiburan di wilayah Bogor.

FYI. Aku bukanlah tipe orang yang suka jalan-jalan, justru tempat favoritku adalah rumah. Ibaratnya zona nyaman, rumah merupakan tempat ternyaman untuk berdiam. Namun jika keterusan kan enggak baik untuk kesehatan jiwa dan raga (enggak gerak). Maka, sesekali aku juga butuh keluar rumah, minimal sepekan tiga kali. Biasanya aku ke paud, ngaji, atau main ke rumah teman.

Untuk zona di luar rumah, aku niatkan untuk menyegarkan pikiran -di luar baca buku- sekaligus untuk mendapatkan berbagai insight baru sebagai bahan tulisan. Walaupun efeknya aku merasakan kelelahan (rasa lelah ini melebihi kapasitas lelah dalam berbenah), namun setelah keluar rumah, biasanya power syukurku meningkat tajam.

Walaupun aku sudah tinggal lima tahunan di Bogor, sesungguhnya wawasanku masih minim untuk lokasi pariwisata. Konon, Bogor merupakan kota sejuta taman, tapi aku sendiri belum pernah menyambanginya, maka aku sempatkan -walau singkat- turun dan masuk kedalam taman topi (walaupun sudah tutup karena sudah sore).

Seperti hari ini, aku baru tiba di rumah pukul 20.00 WIB. Di sepanjang perjalanan banyak hal yang aku saksikan (karena jarang aku lakukan) bahwa betapa hidup di jalanan itu keras, mereka mengais nafkah hingga larut malam membuatku bergidik sedih. Walaupun aku pernah hidup dalam kondisi miskin, namun kemiskinan dan tingkat kesenjangan di kota, ternyata lebih menyakitkan dibandingkan hidup di desa. Setidaknya jika di desa, ada yang kesusahan, ada yang peduli (entah sekarang masih demikian atau enggak).

Perjalanan kali ini enggak direncanakan di awal, mendadak gitu aja, tujuan utamanya ada pada dua poin pertama :

  1. Memenuhi permintaan anak, ingin naik kereta (KRL).
  2. Menemani suami yang hendak beli kaus olahraga baru (tokonya ada di daerah Paledang, arah JPO depan stasiun kota Bogor), kaus yang katanya mau kembaran sama temannya -duet lomba badminton, mereka menang, duitnya buat beli kaus olahraga baru, seragam.
  3. Alasan ketiga, sekali dayung, dua, tiga pulau terlampaui. Aku minta ke taman topi untuk dijadikan review. Padahal awalnya aku ingin mereview sebuah perpustakaan, tapi enggak jadi-jadi. Maka, aku buat tulisan ini untuk membahas taman itu- walau enggak seterkenal taman lainnya, enggak serapi taman lainnya serta tulisanku yang enggak detail seperti yang diharapkan..

Rute yang kami tempuh :

  1. Berangkat dari rumah naik motor, pukul 17.20 WIB tiba di stasiun Bojonggede, beli tiket.
  2. Tiba di stasiun Bogor, menjelang maghrib, tapi belum adzan, mampir ke taman topi sejenak.
  3. Sholat di masjid baru sebelah taman topi (belum jadi utuh).
  4. Jalan kaki menuju toko olahraga.
  5. Pulang.
  6. Tiba di stasiun Bojonggede, muter mencari makan.
  7. Udah nemu tempat makan enak, ada asap rokok, jadi balik, keluar, enggak lanjut pesan.
  8. Pulang, anak tidur di motor. Tiba di rumah pukul 20.00 WIB.
kamar mandi masjid (yang belum jadi) di dekat taman topi.

Lalu, apa yang mau direview Nik?

Aku review sedikit aja ya, semoga nanti ada yang mendetailkannya.

About Taman Topi

Taman Topi terletak persis disamping stasiun Kota Bogor, yakni di Jl. Kapten Muslihat No. 51 Bogor 16124.

Pintu masuknya bisa bebas dari arah manapun karena aku jalan kaki, masuk tepat dari samping stasiun (setelah melalui JPO).

Di area depan taman, kita disambut langsung oleh sebuah patung yang menjadi ikon yang bersejarah. Yakni patung Kapten Tubagus Muslihat. Seorang Pahlawan muda yang berjuang dalam Revolusi Nasional Indonesia di Bogor (meninggal pada tanggal 25 Desember 1945- dalam usia 19 tahun -untuk detail bisa dicek di wikipedia).

Patung Kapten Tubagus Muslihat

Konon, tempat inilah yang menjadi area pertempuran sehingga Kapten Tubagus Muslihat gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia di Bogor.

Dari berbagai referensi yang ada, taman topi sudah melalui berbagai fase pemugaran dan perubahan nama. Bermula dari tahun 1881, lokasi ini bernama Wilhelmina Park. Yakni taman yang didirikan oleh Pemerintah Belanda sebagai sarana wisata mereka. Bernama Wilhelmina, sebab nama Ratu Belanda kala itu adalah Ratu Wilhelmina yang berkuasa tahun 1980-1948.

Tahun 1960 areanya meluas (dari berbagai sumber) mencakup taman topi memanjang hingga pasar anyer, sebagian area digunakan untuk kebun bunga hingga pasar anyer.

Di tahun 1975 berdiri pula taman ria yang masih satu kawasan dengan taman topi. Taman ria itu dikenal sebagai taman ade irma suryani.

Tahun 1994 area tersebut dipangkas untuk kebutuhan pemkot yang memabngun terminal angkot sebab lokasinya yang strategis.

Disebut-sebut ‘taman topi’ karena beberapa atap bangunannya berbentuk seperti topi raksasa. Masyarakat Bogor lebih mengenalnya dengan sebutan plaza taman topi atau plaza kapten Muslihat.

Namun istilah plaza (cek kbbi v klik ini) disini maksud sebenarnya bukan seperti yang disaksikan zaman sekarang (menurutku agak semrawut karena banyaknya pusat pertokoan dan area parkir serta panas beraspal).

Makna plaza di taman topi, gagasan awalnya adalah sebagai alun-alun di kota, didesain sebagaimana ruang terbuka publik yang bisa digunakan untuk tempat berkumpul, bermain, wisata hingga kegiatan sosial yang dilakukan masyarakat.

Lalu, isi taman ini, apa saja?

Dari berbagai cerita yang sudah pernah kesana, taman topi terbuka bebas dari jam 9 pagi hingga 5 sore di weekday, jam 8 pagi hingga 6 sore di weekend. Tiket masuknya sekitar 4 hingga 5ribu rupiah.

Untuk masuk ke wahana anak-anak, di taman ade irma suryani tarifnya 10ribu rupiah dan biaya wahana yang ada didalamnya berkisar 5ribu hingga 25ribu rupiah. Teman-teman bisa mencobanya di hari aktif ya, soalnya aku kesana sudah tutup dan memang enggak berniat membuat jadwal terlebih dahulu.

Untuk informasi yang lain, bisa download aplikasi milik pemkot (klik disini) atau bisa mengunjungi tempat wisata lainnya di website pariwisata kota bogor (klik disini).

Conclusion

Setiap tempat pasti unik, punya nilai, cerita bahkan sejarah dibalik berdirinya area tersebut.

Taman topi ini cukup worth it untuk tujuan wisata yang strategis dari area publik dan aman serta nyaman bagi yang terkendala transportasi. Namun kekurangannya perlu cek jadwal, sebab area disana cukup ruwet walaupun sudah mulai membaik dibandingkan beberapa tahun silam. Aku kira saat ini sudah mulai teratur dan infrastruktur cukup memuaskan.

Untuk aku pribadi, pergi kesana karena sekadar lewat tentu berbeda yang betul-betul meniatkan untuk berlibur atau berpariwisata. Aku ke daerah taman topi tepat di hari libur maulid nabi, walaupun malam minggu, sepanjang area sungguh sepi. Beberapa pedagang bilang bahwa area ini sepi karena banyak yg libur (kerja).

Demikian review singkat dariku, semoga ke depan bisa main (serius) ke taman topi dan merasakan berbagai wahananya.

Teman-teman yang sudah pernah kesana, bisa cerita di kolom komentar ya, apa saja yang dirasakan dan kesannya. Terimakasih. Sampai jumpa di review-review selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *