KAJIAN ISLAM

Said bin Al-Musayyib

Siapa Said?

Said bin al-Musayyib bin Hazn bin Abi Wahb al-Makhzumi al-Quraisy (Arab: سعيد بن المسيب بن حزن بن أبي وهب المخزومي القرشي‎, lahir 15 H/636, wafat 94 H/715 M; umur 79 tahun) adalah salah seorang ulama ahli hadits dan ahli fiqih dari Madinah. 

Ia termasuk golongan tabi’in, dan merupakan salah seorang dari Tujuh Fuqaha Madinah. Di antara ketujuh tokoh Madinah tersebut, Said sering dianggap sebagai yang paling berpengaruh.

Said dikenal sangat tekun beribadah, telah melakukan haji lebih dari tiga puluh kali, dan selama empat puluh tahun tidak pernah meninggalkan salat berjamaah di baris (shaf) pertama di masjid. Imam Ahmad merawikan dari ‘Imran al-Jauni bahwa “Sa’id bin al-Musayyib tidak pernah ketinggalan salat (berjamaah) dalam semua salatnya selama 40 tahun, dan tidak pula melihat tengkuk para jamaah (karena berada di shaf pertama), dan para jamaah juga tidak pernah mendapatinya keluar dari masjid (karena ia pulang paling terakhir).” 

Abu Sahal Utsman bin Hakim berkata, “Aku mendengar Sa’id bin al-Musayyib berkata, ‘Sejak 30 tahun yang lalu, setiap kali mu’adzin mengumandangkan adzan, aku pasti sudah berada di masjid.'”

Said adalah orang yang paling hapal atas berbagai hukum dan keputusan yang dikeluarkan oleh Khalifah Umar bin Khattab, sehingga mendapat julukan Rawiyatul Umar (periwayat Umar). Hadits mursal yang berasal dari Said bin al-Musayyib dianggap hasan oleh Imam Syafi’i. Walau demikian, Imam Ahmad juga selainnya berkata, “Mursalat (kumpulan hadits mursal) yang diriwayatkannya adalah shahih kesemuanya.”

Said bermata-pencaharian sebagai sebagai penjual minyak, dan ia tidak pernah mau menerima berbagai pemberian. Ia menikah dengan anak perempuan dari Abu Hurairah. Ia mempunyai seorang putri bernama Ribab, yang meskipun dilamar oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan bagi anaknya Al-Walid, namun dinikahkannya dengan muridnya Abdullah bin al-Wada’ah.

Ibadah dan Wara’nya (Sikap Kehati-hatian)

Sa’id bin al-Musayyib ibarat cermin bagi diri-diri yang jujur dalam keimanan. Keilmuannya yang dalam, mewujud dalam amal perbuatan yang demikian memukau. Beliau adalah seorang hamba yang berbahagia dengan ketundukan dan ketaatan kepada Rabbnya. Seorang hamba yang menjaga diri dari kemaksiatan serta kesenangan dunia yang melalaikan. Ungkapan yang selalu diulang-ulangnya adalah, “Tiada yang lebih membuat seorang hamba berwibawa selain ketaatan kepada Allah, dan tiada yang lebih membuatnya hina daripada kemaksiatan kepada-Nya.”

Beliau biasa berpuasa di siang hari dan shalat malam di tengah kegelapan malam. Beliau senantiasa berpuasa, apabila matahari tenggelam maka beliau datang ke masjid dengan membawa minuman dari rumah dan meminumnya. Kesehariaannya hanya beredar antara masjid dan rumahnya. Beliau banyak mengerjakan shalat, berzikir, membaca al-Qur’an, serta mengajarkan ilmu agama.

Sa’id bin al-Musayyib senantiasa menunaikan ibadah haji setiap tahunnya. Beliau tidak pernah tertinggal dari shalat berjama’ah selama 40 atau 50 tahun. Selama 30 tahun, tidaklah muadzin mengumandangkan adzan melainkan beliau telah berada di masjid. Tak hanya itu,  beliau selalu berada di shaf pertama.

Sa’id seorang yang merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan. Beliau tidak bermudah-mudahan mengambil pemberian begitu saja dari manusia. Sa’id pernah memiliki barang perniagaan senilai 400 dinar untuk berdagang minyak. Beliau pernah berkata, “Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau mengumpulkan hartanya dengan cara yang halal, lalu memberikan sebagian darinya sebagai hak hartanya dan menahan diri dari meminta-minta kepada manusia.”

Demi mendapatkan kemudahan dalam meraih ilmu, beliau pun memilih menikah dengan putri gurunya, Abu Hurairah yang hidup dalam kefakiran. Padahal, sangat mungkin bagi beliau mendapatkan istri bernasab mulia dari kalangan Quraisy sebagaimana kedudukan beliau sendiri.

Hal ini pula yang Sa’id pilihkan untuk putrinya. Mengutamakan agama dan kehidupan akherat daripada kesenangan dunia. Tersebutlah kisah penolakan beliau terhadap pinangan khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan untuk al-Walid, putranya. Seorang ayah yang mengkhawatirkan keteguhan agama putrinya, lantaran gelimang harta dan kemewahan sebagai istri khalifah. Menakjubkan, beliau justru menikahkan putrinya dengan Ibnu Abi Wada’ah, seorang yang tekun menghadiri majelis ilmu di Masjid Nabawi dan paling sering mengikuti majelis Sa’id bin al-Musayyib. Seorang fakir yang baru saja menduda, menikahi putri tokoh terkemuka hanya dengan mahar dua dirham saja.

Sa’id demikian menjaga agamanya. Di antara ucapan beliau, “Tidaklah setan berputus asa dari sesuatu perkara melainkan dia akan datang dari arah kaum perempuan.”

Sampai-sampai beliau berkata pula, “Tidak ada (cobaan) yang lebih aku takutkan daripada kaum wanita.” Ketika itu beliau telah berusia 84 tahun dan telah buta sebelah matanya.

Keteguhan dan Kesabaran Beliau

Allah telah mengaruniakan bagi Sa’id pemberian yang sangat besar berupa sifat sabar. Terlebih, beliau hidup di masa kekhalifahan Bani Umayyah yang sarat dengan cobaan. Sebagai seorang tokoh dan ulama terkemuka, keteguhan beliau dalam memegang prinsip teruji dengan berbagai kezhaliman penguasa.
Ketika khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan mendapatkan penolakan atas pinangannya terhadap putri Sa’id, menjadi murkalah dia. Sambil terus memaksa, ‘Abdul Malik menjatuhkan hukuman terhadap Sa’id. Beliau harus menahan sakit dan pedihnya 100 kali cambukan di tengah cuaca yang begitu dingin, diikuti guyuran air, serta dipakaikan jubah dari kulit.

Pada kali yang lain, beliau kembali mendapatkan siksaan dari penguasa tanpa sebuah kesalahan. Beliau dicambuk 60 kali, dihinakan dengan diarak keliling mengenakan celana dari bulu, kemudian beliau dijebloskan ke dalam penjara. Bahkan penguasa kala itu melarang umat manusia untuk berbicara dengan beliau. Hebat! Sosok yang teguh memegang prinsip. Bersamaan dengan itu, keilmuan dan kesabarannya menghalangi beliau untuk bersikap menentang terhadap penguasa kaum muslimin. Seorang tokoh sekaliber Sa’id mungkin saja menggalang kekuatan melawan penguasa. Bisa saja beliau menebar opini, menjatuhkan wibawa pemerintah. Namun beliau memilih bersabar atas kezhaliman tersebut sesuai dengan tuntunan Nabi.

Hendaknya kaum muslimin meneladani sikap mulia ini, yang bersumber dari bimbingan Nabi. Hendaknya tidak gegabah dalam menyikapi kezhaliman pemerintah. Sebaiknya, sikap bermudah-mudahan menyebarkan kesalahan pemerintah apalagi sampai bertindak anarkis menentang pemerintah, merupakan sikap dan tindakan yang jauh dari bimbingan Nabi dan teladan para ulama salaf.

Ketika pemerintahan dipegang oleh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang dikenal keshalihannya, Sa’id senantiasa membantu Sang Khalifah dengan keilmuan beliau. Bahkan, tidak berat bagi beliau menghadap kepada Amirul Mukminin tatkala dibutuhkan pendapatnya. Di kemudian hari, kemungkaran-kemungkaran mulai mewarnai roda pemerintahan Bani Umayyah. Sa’id bin al-Musayyib senantiasa teguh memegang prinsip kebenaran yang diyakininya.

Akhir Kehidupannya

Allah mengaruniakan usia panjang kepada beliau, hingga beliau pun mencapai masa tua. Usia yang penuh dengan kebaikan.
Menjelang wafatnya, Sa’id jatuh sakit. Sakit yang parah sampai membuatnya pingsan. Waktu itu Nafi’ bin Jubair menjenguknya, lalu menyampaikan kepada kerabat Sa’id agar menghadapkannya ke arah kiblat. Mereka pun melakukannya. Setelah siuman beliau mengatakan kepada mereka, “Apabila aku tidak berada di atas kiblat dan jalan yang lurus, demi Allah, niscaya tidak akan bermanfaat penghadapan kalian pada tempat tidurku (ke arah kiblat).”

Tatkala beliau mengalami sakaratul maut, Sa’id masih meninggalkan uang seratus dinar untuk keluarganya. Lalu beliau berseru kepada Rabbnya, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa tidaklah aku meninggalkan dinar-dinar ini melainkan agar aku bisa menjaga keluargaku dan agamaku.”

Pada tahun 94 Hijriah, hamba yang shalih ini menghadap Rabbnya. Tahun tersebut dikenal juga dengan Tahun Fuqaha’ dikarenakan sejumlah ulama ahli fikih meninggal di tahun itu.

Sa’id bin al-Musayyib wafat pada usia 79 tahun. Semoga Allah merahmatinya.

Sumber : 

  1. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Said_bin_al-Musayyib
  2. http://buletin-alilmu.net/2018/01/19/said-bin-al-musayyib-ulama-pelita-dalam-kegelapan/
  3. http://kisahmuslim.com/2841-tokoh-tabiin-said-bin-musayyab.html

Tinggalkan Balasan