HOMESCHOOLING

Setelah Satu Tahun Homeschooling

Menjalani homeschooling atau pendidikan non-formal secara mandiri tidaklah mudah. Bisa dikatakan, menjadi pilihan yang tidak lazim. Ya, per November 2022 lalu, saya dan keluarga memilih untuk menarik anak dari SD karena satu lain hal. Mulai dari awal tidak adanya pola komunikasi yang sehat hingga puncaknya di bulan Oktober dan November 2022 yang membuat saya harus menarik putera kami dari sekolah.

Sebenarnya, bisa dikatakan cukup melegakan saat anak kemudian belajar secara mandiri. Walau ada plus-minusnya pasti.

Dari satu tahun pola homeschooling yang kami jalani, cenderung un-schooling ini, ada beberapa hal yang kami, terutama saya yang merasakan.

  1. Ortu harus lebih siap banyak belajar dibandingkan anak.
  2. Ortu harus lebih mindful dan aware terhadap segala sesuatu yang dijalani setiap hari.
  3. Ortu harus saling mendukung.
  4. Sadari dan pahami finansial pola homeschooling.
  5. Progres anak homeschooling.

Baiklah, saya bahas satu per satu ya.

Ortu harus lebih siap banyak belajar dibandingkan anak.

Ya, ibarat kita adalah guru, tapi full 24 jam 7 hari tiada henti membersamai, hidup bersama anak, tentulah membutuhkan bahan bakar atau amunisi yang ekstra dari apapun yang dibutuhkan anak. Disini, bukan berarti harus menjadi ahli dalam semua hal. Tetapi sebagai ortu, perlu belajar terus dan lebih ekstra dibandingkan anak sendiri. Karena transfer ilmunya langsung dari sumber yang ada didalam rumah. Jikapun tidak mampu, bisa mendatangi guru (kami lebih memilih mendatangi dibandingkan ‘memanggil’ guru) karena keilmuan dan adab yang perlu diajarkan pada anak secara langsung itu perlu dikenalkan setiap waktu.

Belajar banyak hal. Tapi paling utama adalah belajar agama islam. Alhamdulillah saya ada gambaran berbagai konsep, terutama dari kuttab al-fatih, karena ada adik ipar yang menjadi guru dan juga senang berbagi ilmu. Kemudian, saya juga perlu belajar tentang Alqur’an (Alhamdulillah di akademi alqur’an tahun 2022) dan siroh (di akademi siroh 2023) sebagai bahan belajar anak. Karena basicnya adalah adab, alqur’an, hadist, dan ilmu-ilmu syari’at. Untuk ilmu umum, sebagai wawasan dan lifeskill yang juga insyaAllah mengiringi.

Ortu harus lebih mindful dan aware terhadap segala sesuatu yang dijalani setiap hari.

Jujur, ini tidak mudah, tapi memang dari awareness untuk hidup lebih berkesadaran itulah yang mampu membawa diri kepada kesabaran. Ya, tanpa sikap dan mindset sadar, tak akan menghasilkan sifat sabar. Dari homeshooling inilah auto praktik menjadi diri yang lebih mindful, walau terseok-seok, karena pada umumnya, kalau anak sekolah, ortu lebih mudah menyelesaikan pekerjaan di rumah. Tetapi dengan homeschooling ini, saya harus putar otak, bagaimana pekerjaan saya selesai dan anak juga bisa mengikuti ritme keseharian yang selaras juga.

Tentu perlu jam terbang, dan saya rasa satu tahun ini, yang saya rasakan justru dengan anak homeschooling, banyak urusan domestik yang bisa menjadi pembelajaran dan justru itu meringankan. Misalnya, kalau pagi hari, adek terbangun, maka kakak bisa menemani. Pun saat mencuci pakaian, kadang kakak yang melakukan. Juga memberi makan ayam, menyapu, memasak sendiri saat ingin camilan atau lauk kesukaan, bahkan menemani adek membaca buku. Sesuatu lifeskill ini tak akan didapat sebagai kebiasaan harian kalau anak meneruskan sekolah SDnya.

Tentu itu semua pilihan ya, tapi tujuannya adalah sama, berkesadaran.

Ortu harus saling mendukung.

Ya, ini penting. Jangan homeschool kalau tidak kompak sama pasangan. Misalnya pasangan inginnya A, kitanya B. Pasangan ingin anak sekolah, kitanya pengen anak di rumah aja belajarnya, enggak bakal nyambung. Maka, perlu kesepakatan di awal. Anak ini mau dididik seperti apa dan bagaimana, itu perlu kerjasama dan saling mendukung. Misalnya, ketika ada kegiatan anak di luar rumah, perlu kerelaan untuk mengantar, menemani dan seterusnya.

Sadari dan pahami finansial pola homeschooling.

Ya, perlu kesadaran keuangan juga ya. Karena sejak memutuskan homeschooling, harus sadar menginvestasikan banyak uang ke depan. Salah satunya saat switched dari belajar di sekolah ke rumah. Misalnya, kami sudah melunasi uang pendaftaran dan semuanya, tetapi di tengah jalan kami memutuskan untuk hoemschooling, ya artinya harus ikhlas merelakan uang sekian juta hangus di awal, walaupun itu uang pribadi, tidak dicover oleh kantor sama sekali. Jadi, harus kompak, harus yakin dan paham finansial ke depan. Saya sendiri yakin, uang pembayaran awal yang cukup besar itu walau hangus, tetapi Allah ganti berlipat kali setelahnya. Dan itu sudah terbukti.

Lalu, bagaimana setelahnya. Ya, lebih mahal itu relatif. Karena kadang ada kegiatan yang sekali jalan, setara dengan uang SPP SD si kakak. Ada juga yang sama sekali tidak mengeluarkan uang (ketika kegiatan hanya didalam rumah, tidak kemana-mana). Intinya ya, semua ada konsekuensinya.

Konsekuensi homeschooling adalah, kita perlu menyadari kondisi finansial masing-masing. Tidak semua orang bisa HS, karena itu adalah pilihan. Sama halnya tidak semua orang bisa sekolah, misalnya harus setiap hari antar-jemput sepanjang 6 tahun, membayar SPP, kegiatan, buku dst. Walau SD anak kami ini terbilang SD yang paling terjangkau, tetapi karena di awal itu ada banyak sekali missed yang saya sendiri tidak sanggup menanggulangi (bukan dari sisi finansialnya, karena itu sangat tidak ada masalah). Tetapi dari sisi pola atau gaya komunikasi yang bagi saya, membuat saya tidak sehat. Maka, menurut saya, lebih baik kehilangan di awal, daripada saya harus menjalani aneka hal yang membuat saya dan anak dalam jangka panjang justru tidak selaras dengan kesehatan (terutama kesehatan emosional dan mental).

Progres anak homeschooling.

Satu tahun menempuh HS (November 2022-November 2023), alhamdulillah anak sudah bisa membaca dan menulis secara natural (murni tidak didikte, hanya difasilitasi buku dan alat tulis). Inilah yang membuat saya takjub, ketika waktu SD, anak saya seringkali frustasi karena dia ‘tidak sepintar temannya’ dan bahkan agak syok melihat nilai-nilainya yang rendah. Tetapi ketika di rumah, dia leluasa menulis, menggambar dan membaca secara alami, bangkit dari kesadarannya sendiri.

Selain itu, ada banyak ilmu yang bisa diserap anak dari dalam rumah dan ketika menjalani pembelajaran di luar rumah (kadang jalan-jalan ke perpustakaan, ke lembaga-lembaga pemerintahan, hingga berkelana di alam bebas). Maka, bagi saya, bukan karena hafalannya, alqur’annya sudah berapa juz, tetapi hal utama yang paaaaaaaaliiiiiiing utama menurut saya adalah implementasi nilai-nilai keimanan itu sendiri. Penguatan tauhid utamanya, karena hal itu tidak bisa dipisahkan antara kehidupan dalam ruangan dan di luar ruangan.

Pernah suatu hari anak sakit, dia bilang badannya gak enak. Masuklah saya di konsep ketauhidan, bahwa rasa sakit itu karena dosa dan kesalahan kita, perlu berdoa dan minta hanya pada Allah. kemudian, anak mengakui pernah lupa tidak membaca bismillah, makan tergesa-gesa dan lupa tidak baca doa masuk kamar mandi.

Karena konsep yang kami yakini, tubuh manusia tidak hanya terdiri dari fisik, tapi ada tubuh yang lebih halus yang itu justru penting untuk dijaga. Sebab jin dan setan bisa masuk melalui ketidaksadaran diri kita. Misalnya saat makan lupa baca basmalah, maka, masuklah setan dan jin didalam lambung, mengganggu organ disana. Di luar itu, perlu menjaga asupan fisik juga, dengan tidak memakan makanan yang tidak thayyib (kalau halal, sudah pasti, tapi thayyib? belum tentu). Selain memastikan harta yang didapatkan adalah halal dan thayyib, memasukkan kedalam pencernaan anak pun perlu belajar juga. itulah kenapa, bagi saya, homeschooling ini bukan untuk anak semata tetapi lebih banyak ortu yang harus berbenah setiap harinya.

Wallahu’alam bishshowab. Semoga Allah berikan taufik dan rahmat dari segala hal yang kita pilih ini, dan insyaAllah kelak ini yang terbaik dan kita siap untuk menjadi pribadi yang bertanggungjawab.

Tinggalkan Balasan