DAILY DECLUTTERING & ORGANIZING INNERCHILD MINDFULNESS SELF HEALING

Social Relationship Experiment

Setelah memasuki tahun baru 1443 H, saya bersyukur telah melewati badai sebagai penyintas covid-19 bulan Juli lalu bersamaan dengan kondisi hamil yang luar biasa. Bagi wanita yang terbiasa hamil, mungkin menghadapi kehamilan yaaa seperti biasa saja kondisi badannya sudah lentur beradaptasi. Sementara saya pribadi, sudah jauh 6 tahun lamanya tak merasakan kehamilan. Sehingga membutuhkan adaptasi, belajar dari nol lagi dan tentu saat ini bicara tentang kesehatan tak lagi fisik semata. Lebih penting dari kesehatan fisik adalah kesehatan jiwa (mental, spiritual dan emosional).

Seseorang memang akan bergerak berdasarkan apa yang ada di benak dan pengalaman. Dan akan selalu ada perbedaan antara introvert dan Ekstrovert. Misalnya suami saya, Ekstrovert banget. Kalau sehari saja nggak keluar rumah, nggak melihat wajah orang bertatap muka maka ia bisa lelah. Sebaliknya, saya justru lelah setelahnya jika keluar rumah. Perbedaan yang sangat ekstrim. Sebab prosentase karakter itu begitu mencolok. Lantas apakah saya nggak akan keluar rumah sama sekali? Ya keluar, sangat jarang, dan memang keluar di saat butuh, bukan hanya sekadar ngobrol ngalir ngidul.

Saya pribadi aktif (lebih aktif malah) di media sosial untuk berbagi keseharian. Terutama Instagram, namun suka-suka saja, nggak menentu. Di sana lebih banyak saya dokumentasikan aktivitas anak, berbenah, berkebun, podcast, membahas Inner child dst. Intinya ya konten.

Berbeda dengan Instagram. Aplikasi WhatsApp biasanya saya setting untuk curhat dengan pengaturan tertentu (bukan publik). Namun, setelah melakukan pengamatan, sejak kejadian 2 hari yang menguras jiwa dan air mata, saya jadi belajar banyak ternyata tak semua orang yang saya percaya, bisa dipercaya sepenuh hati. Jadi, yang saya lakukan dalam waktu 2×24 jam adalah decluttering kontak (yang sudah lumayan berkurang, tapi belum optimal) dan detoks media sosial.

Salah satu hal yang beberapa kali saya lakukan, walau jarang adalah ‘tes respons’ tanpa penjelasan. Jika dulu, zaman saya belum punya WhatsApp atau aplikasi yang end to end encrypted, biasanya saya tebar jala masalah kemudian mengujinya. Ada yang lulus ada yang tidak. Seperti yang pernah saya lakukan saat di BEM ketika menjadi sekretaris PSDM. Beberapa rekan saya uji dan terlihat mana yang murni dan mana yang langsung menghakimi. Setelah berminggu-minggu mencobanya, kemudian saya langsung paparkan hasil eksperimen itu. Semua kaget dan geleng-geleng kepala betapa ide itu, out of the box dari dalam pemikiran saya. Terkesan membandel atau merepotkan, tapi hasilnya sampai kini bisa saya jadikan kenangan di hati.

Beralih ke kehidupan pasca kampus, sejak 2017 saya melakukan ulang, menguji beberapa orang yang saya kenal. Dengan sebuah masalah sepele tapi cenderung dibesarkan. Ujungnya sampai ada yang melakukan rapat guna bagaimana merespons ‘masalah’ yang saya lempar. Spesifik, selalu pada orang yang spesifik. Kemudian tahun berikutnya pun demikian. Singkat cerita sepanjang lima tahun ke belakang, sudah 2x eksperimen ini saya lakukan.

Menebar jala melalui status WhatsApp memang paling jitu dan tak mudah ditebak. Saat membagikan frekuensi perasaan jiwa, energi itu akan ditangkap oleh pembacanya. Nah, reaksi dari merekalah yang saya tunggu.

Dari kejadian 2 hari ini, ada beberapa reaksi yang saya kategorikan kedalam 3 tipe.

  1. Baca status, kemudian menghakimi. Ada juga yang tak ingin menggurui (dalam frasa bahasa, sebenarnya Denial, tak menggurui tapi sejatinya itu murni menggurui) dengan paragraf panjang yang jika dibaca cukup nyeri.
  2. Baca status, berempati. Ini golongan kedua, responsnya ada yang mengirim peluk (emoticon) dan berempati serta logic. Kesedihan itu dorongan dari efek kehamilan yang memang lama tak dirasakan, hormonal. Ada juga yang langsung berempati dengan cara mendoakan apapun itu terbaik.
  3. Terakhir, ini closed friends yang benar-benar setia, pembelajar. Mereka bukan psikolog, namun pendengar sejati dan meminta apakah saya perlu bantuan, boleh menelepon jika itu melegakan, dst. Golongan ini hanya segelintir.

Seiring waktu berjalan, sejak 2019-2020, khusus WhatsApp, mulai saya batasi. Karena bagaimanapun, menulis status di WhatsApp itu memang tak bisa dibagikan ke publik, kecuali ada yg jail screenshot dan menyebarkannya sebagaimana yang dilakukan oleh tim dari akun gosip (pernah kejadian, bukan gosip tapi ‘adu-domba’).

Tahun Baru, Relasi Baru

Ya, kini kontak saya hanya berisi teman-teman yang benar-benar lulus ujian closed friends dan beberapa kontak penting dari jaringan profesional saja. Bisa dihitung jari. Kenapa demikian?

  1. Saya menganggap WhatsApp berbeda dengan media sosial lainnya. Mereka yang tersimpan nomornya, akan berkomunikasi secara mendalam dibandingkan media sosial yang open to public.
  2. Detoksifikasi bisa dilakukan dari dalam diri dan dari luar. Detoks jiwa, melalui healing, menambah wawasan keilmuan, dan juga mengendalikan apa yang bisa dikendalikan. Salah satunya adalah hanya menyimpan yang penting, tinggalkan yang membuat luka.
  3. Dari sekian banyak pengalaman pahit, saya rasa di era jempol alias gadget yang perkembangannya sangat pesat kini ada 2 yang bisa kita pilih. FOMO atau JOMO. Di tahun baru Muharram ini, saya bertekad untuk keluar dari arus FOMO menuju JOMO. Karena itulah, saya memulai dari detoks relasi serta menyederhanakan media sosial saya.

Proses berempati itu dimulai dari kemampuan diri sendiri apakah sudah bisa berempati terhadap diri sendiri? Jika sudah, biasanya akan jauh lebih mudah untuk berempati pada orang. Saya tak tahu, sepanjang kehamilan ini kenapa ujiannya luar biasa ya. Ujian jiwa terutama. Maka, ikhtiar inilah yang saya lakukan, demi menyelamatkan jiwa pribadi agar tak semakin membangkitkan memori luka yang sudah lama tertutupi.

Bisa saja sih, cuek bebek dengan ucapan orang atau pesan yang (tak diminta itu) datang panjang sekali dan seolah menghakimi terutama Kalimat ‘telah mencemarkan nama baik bla bla bla’ padahal faktanya tak ada yang menganggap itu pencemaran nama. Sure, saya masih kaget dengan kata-kata tersebut. Saya kira isinya penuh empati ternyata ada sembilu yang disisipkan. Jadi Clear! Saya paham alur berpikirnya. Dan kini, saatnya kembali lagi kedalam goa.

Sebagai sesama wanita, saya jadi ingat, sebuah buku yang menarik terkait merawat fitrah. Konon, kondisi fitrah wanita adalah (salah satunya) hamil. Kita akan merasakan benar jiwa yang mudah rapuh, lembut, halus, serta perasaan yang tinggi ya di saat hamil. Dan saya mulai merasakan itu. Sebelum hamil, mayoritas otak dan kepala saya penuh dengan logika, thinking dan straight. Sulit sekali baper atau nangis. Entahlah di saat hamil ini, bisa dua hari dua malam nangis parah. Sampai mata bengkak padahal hanya gara-gara baca tulisan di WhatsApp. Betapa cengengnya Nikmah! Mungkin itulah kenapa salah satu senior saya, alumni psikologi UGM bilang, “Dik, kalau mau mengasah perasaan, sering-seringlah hamil. Di sana akan timbul jiwa yang tak didapat saat tidak hamil.”

Dan setelah 6 tahun tak merasakan itu, kini, saya tahu kenapa mentor kehamilan & persalinan saya saat zoom meeting bulan lalu, membagikan pengalamannya bahwa perlu membatasi media sosial, terutama di trimester 2&3. Dan terutama untuk orang yang bertipe introvert, sebaiknya seleksi lagi pertemanan yang melekat. Fokus pada orang yang memberikan fokus diri untuk merawat diri dan jiwa. Karena hanya itulah usaha yang mampu kita kendalikan dan jaga.

Tinggalkan Balasan