EDUKASI MARKETING RKTIM

Story Telling Produk, Cara Berjualan yang Elegan

Dear Keluarga RKTIM, sesuai dengan obrolan kita di grup, saya akan membahas materi story telling untuk kita jadikan post di media sosial. Dan tentu, tetap ingat tujuan awal kita dulu, mengedukasi, agar semakin banyak yang memahami bahwa kita sebagai pedagang enggak akan keluar dari etika berjualan dan senantiasa menjadikan aktifitas jualan ini selaras dengan tuntunan islam, berjualan dengan jujur, berkah dan insyaaAllah mendulang amal baik.

Intinya tetap ingat 4 perkara diatas ya, insyaaAllah hati akan menjadi lapang.. Rezeki tak akan pernah tertukar.

Baik, sebelum masuk ke materi, teman-teman bisa nonton video ini :

Nah, sudah nontonnya? Gimana teman-teman? Sedih? ikut merasakan alurnya? Padahal itu adalah iklan.

Pun demikian di dunia maya, kita berdagang online tentu sangat kurang nyaman jika ada yang langsung menawarkan langsung (hardselling) tanpa memberikan edukasi atau pemahaman terlebih dahulu.

Jika yang lalu kita belajar tentang target market, alias setiap produk memiliki pasar tersendiri. Pun demikian dengan postingan kita, senantiasa ada pembacanya tersendiri. Maka dari itu, kemampuan menuliskan caption ini sangat perlu kita latih. Mengalir aja ya, sebagaimana kita terbiasa menuliskan status berupa narasi kehidupan sehari-hari.

Setidaknya terdapat 6 hierarki efek yang perlu kita ketahui dalam memberikan edukasi kepada calon konsumen maupun konsumen tetap kita :

Level terbawah adalah memberikan awarenes (kesadaran) dan knowledge (pengetahuan/wawasan). Walaupun levelnya paling bawah namun porsinya paling tinggi dari semua. Kedua poin ini membuat seseorang mampu berfikir untuk tertarik pada dagangan kita.

Setelah mereka berpikir, tahap selanjutnya adalah mereka mampu merasa. Yakni dengan kita berikan pilihan produk dan mereka mampu menyukainya (cocok).

Dan step berikutnya adalah do (mau membeli), yakni saat mereka merasa yakin dengan diri kita (conviction) dan mereka akan sukarela mengeluarkan uang (purchase) membeli dagangan kita.

Lalu bagaimana caranya untuk masuk ke semua tahap itu?

Kuncinya dari bawah, awareness. Mari kita kenalkan dengan membuat caption, story telling.

Story Telling

Idealnya dari story telling merupakan kisah nyata atau memang kita sudah memiliki barang/produk sehingga kita sudah tahu benar dan merasakan manfaatnya. Selain itu, Energinya akan sangat terasa jika itu dari ‘murni suara’ kita dan insyaaAllah sampai kepada pembeli.

Pastikan dulu, sebelum membuat post : Berdo’a dulu, berpikiran positif ini akan dibaca oleh banyak orang, yakin sama produk yang dipost dan mulailah menulis dalam kondisi yang netral (tidak sedang emosi negatif).

Baik, mari kita mulai.

Pada intinya story telling merupakan teknik penyampaian informasi yang menarik dan dapat mengubah perasaan orang yang membaca atau mendengarnya.

Ada berbagai formula untuk menuangkan story telling, kita bisa memilihnya mana yang sesuai dengan kita.

Teknik AIDA

merupakan formula copywriting klasik yang digunakan dalam berbagai tulisan copy pemasaran. Teknik ini sering digunakan pada halaman penjualan, landing pages, email, dll.

Berbagai ide dapat kita peroleh dengan menggunakan metode standar tulisan copy ini.

  • A : Attention, Mendapatkan perhatian pembaca
  • I : Interest, Informasi menarik bagi pembaca
  • D : Disire, Manfaat produk, jasa, ide dan bukti tentang apa yang anda tulisan
  • A : Action, tanggapan dari pembaca.

Metode PAS

PAS merupakan akronim dari :

  • P : Problem – Mengambarkan Masalah pada pembaca
  • A : Agitate – Sentuh masalah tersebut hingga pembaca merasa gelisah
  • S : Solve – Hadirkan solusi dari kegilasahan yang ditimbulkan dari masalah

Biasanya metode PAS ini sama seperti iklan Thailand, membuat audiens terperangah, ikut merasa dan kemudian tercerahkan karena ada produk yang sesuai atas kegelisahannya.

Lau, kita pakai metode apa?

Intinya, daripada bingung memikirkan metode, yuk praktik langsung aja ya. Mari kita buat story telling, mungkin sebagai awalan bisa kita coba membuat beberapa kalimat saja. Intinya kita bangun kata demi kata yang positif dan nyaman kita baca. Jika direspons pembaca, jangan lupa kita jawab ya 🙂

Ini contoh story telling saya, tiga tahun lalu, masih sama memasarkan produk buku-buku Tigaraksa.

Jangan lupa ditambah foto yang mendukung cerita,

Keunggulan kita post di FB karena basicnya caption story, berbeda dengan instagram yang lebih menonjolkan tampilan gambar (image, foto), FB ini bisa kita tuangkan cerita bebas sepanjang apapun. Jika di instagram memang kita dibatasi hanya 2,500 karakter ya hehe.

So?

Mari praktikkan sama-sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *