EDUKASI

Sumpah Pemuda

Tiba-tiba tanpa persiapan, malam ini mood nulis post blog (di luar tugas) muncul begitu saja. Karena bertepatan dengan sumpah pemuda, jadi kubuat post ini.

Beres sholat isya’ kuhidu aroma secangkir susu cokelat hangat yang sudah tandas. Zonk! enggak sadar udah aku teguk habis dari tadi. Intinya, menghabiskan waktu sambil mikir mau ngetik apa.

Baiklah, aku jeda dulu. Panggilan makan malam mengalihkan perutku, aku makan dulu saja. Siapa tahu beres makan, perut kenyang, bisa ngetik bebas, leluasa.

Siapakah Pamuda itu?

Hahaha, aku sudah selesai makan. Tuh, benar kan, kalau lapar menyerang, sulit untuk konsentrasi. Beres makan, langsung gampang ngalir ide gini.

Oke, balik ke topik. Jadi siapa yang dimaksud pemuda itu?

Kalau googling, biasanya langsung muncul kata ‘pemuda adalah pilar bangsa’, atau ‘pemuda adalah penerus bangsa’. Enggak jauh beda dari dua kalimat itu. Intinya memang bagian penting dari suatu bangsa.

Kalau ditinjau dari segi istilah, ada yang menyebutkan bahwa pemuda adalah seorang individu yang apabila dilihat dari sisi fisik mengalami perkembangan yang jelas, dan secara psikis mengalami perkembangan emosional, maka dari itu pemuda disebut sebagai sumber daya manusia (sumber disini).

Kalau menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia bagaimana?

Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang kepemudaan pasal 1 ayat (1), mendefinisikan bahwa “ Pemuda adalah warga negara Indonesia Yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun”.

-UU No.40 th 2009

Wah, jadi kalau dilihat dari definisi undang-undang, aku masih masuk kategori pemuda ya (dibawah 30 tahun). Kalau diatas 30 tahun artinya udah dewasa ya, jadi orang yang sungguh bijak. Amiin.

Masih dari sumber yang sama, ada beberapa kedudukan pemuda dalam pertanggungjawabannya atas tatanan masyarakat, yaitu:

  • Kemurnian idealismenya
  • Keberanian dan Keterbukaanya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan-gagasan yang baru
  • Semangat pengabdiannya
  • Sepontanitas dan dinamikanya
  • Inovasi dan kereativitasnya
  • Keinginan untuk segera mewujudkan gagasan-gagasan baru
  • Keteguhan janjinya dan keinginan untuk menampilkan sikap dan keperibadiannya yang mandiri
  • Masih langkanya pengalaman-pengalaman yang dapat merelevansikan pendapat, sikap dan tindakanya dengan kenyataan yang ada.

Poin-poin itu, secara jiwa seperti sebait puisi yang pernah aku buat (zaman SMA #eaaaak).

Gejolak Kawula Muda

Gulita malam

Hitam suram merawan

Tak sebutir tampakkan intan

Memancar deras tandas

Sungguh malamnya pekat

Sepekat jiwa tekad

Melangkah erat penuh hasrat

Selangkah jiwa putus asa

Gejolak seorang muda

Penuh dengan tali rasa

Menyala-nyala sepanjang dada

Penuh dengan indahnya “mutiara kata”

Dibalik ke semua itu

Nampak kuasa rayuan demi rayuan

Nyatakan diri indah gagah

Tak tahunyalah penuh tipu daya

Segala yang dusta tanpa mata


Puisi itu aku tujukan pada beberapa teman saat itu yang suka nggombal (apa ya istilahnya- pokoknya gitu deh), tapi dari mereka juga aku jadi belajar banyak berpuisi.

Sumpah Pemuda

Dua puluh delapan Oktober, sembilan puluh satu tahun silam, di sebuah kota yang kini dikenal Jakarta (dulu Batavia) pernah terjadi sebuah peristiwa yang dinamakan kongres pemuda kedua. Tepatnya pada tanggal 27-28 Oktober 1928 (dua tahun setelah kongres pemuda pertama). Intinya, pemuda zaman itu, memiliki upaya atau tekad kuat untuk mempersatukan organisasi-organisasi pemuda pergerakan dalam satu wadah.

Hasilnya adalah “sumpah pemuda’ yang biasa kita dengungkan waktu masih sekolah atau pelajaran Sejarah Indonesia.

Penulisan menggunakan ejaan van Ophuysen.

Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Merinding nggak pas baca?

Jujur aja, aku agak merinding, membayangkan betapa pemuda saat itu begitu cinta pada negeri ini dan nampak dari sikapnya. Mereka ingin mempersatukan segala perbedaan yang membuat pecah-belah anak negeri (kalau istilah yang sering terdengar di telinga yaitu : ashobiyah -mementingkan kelompoknya sendiri, fanatik terhadap suatu kelompok).

Lalu, korelasi dengan pemuda zaman now, bagaimana Nik?

Menurutku (ini opini, enggak membuka debat, wkwkwk), pemuda zaman now sungguh beruntung. Para pemuda bisa belajar apa saja, bisa akses apapun hanya melalui gadget. Yak, sayangnya gadget juga mirip pisau bermata dua, bisa digunakan untuk kebaikan dan juga sebaliknya. Paham kegolongan juga muncul sebab mulai banyak doktrin-doktrin nyeleneh yang jika enggak disisir bisa agak bahaya, contoh konkritnya : tawuran remaja antar sekolah, tawuran antar desa, bahkan antar ras, suku, agama. Naudzubillahimindzalik.

Tapi aku masih menyimpan optimis, selama pemuda mau belajar, mau peduli terhadap segala persoalan, aku yakin, potensi mereka bisa terselamatkan. Contohnya (ini, lagi-lagi, aku enggak mau debat ya, ini opiniku aja) : waktu demo besar-besaran mahasiswa menolak RUU KPK, itu mereka dibantu anak STM yang notabene biasa ‘aksi’ kepada sesama kelompok, waktu itu kabarnya bergerak bareng untuk membantu kakak-kakak mahasiswa. Waw!

Udah semacam slogan pakai teknik hypnoselling – kata Pak Subi (pakar personal branding). Sumber : instagram Pak Subiakto

Apakah cuma itu?

Tentu tidak. Potensi pemuda yang menyala-nyala jika diarahkan dengan benar maka ia akan bersinar seterang matahari. Intinya, pintar-pintarnya mengetahui potensi, menggali dan mengasahnya aja.

Mulai dari bidang sains, iptek, karya seni, olahraga hingga desain, pemuda kita enggak kekurangan stok talenta. Hanya saja, memang belum merata dan masih terbatas aksesnya – aku jadi inget waktu dulu SMA, beberpa kali ikut OSN, yang jadi juara mesti (hampir selalu) diraih oleh teman-teman sekolah ‘elite’. Mungkin karena metode, fasilitas serta jam belajar mereka berlipat dibanding sekolahku.

Salah satu pemuda yang dikenang hingga kematiannya adalah Alm. Prof. B.J Habibie. Beliau seorang yang ‘alim, lahir dari rahim ibu yang begitu paham ‘cara mengarahkan’ potensi anaknya, dari seorang ayah yang luar biasa bijaksana (jadi ingat, ayahnya beliau ini meninggal waktu sholat mengimami habibie kecil, yang aku pahami, orang yang meninggal saat sholat ini orang yang baik, terpilih, masyaaAllah) serta semangat Rudi Habibie yang memang berbeda dengan kawan seusianya.

Bertumpah darah yang satu dan berbangsa yang satu

-sumpah pemuda

Aku kira, kita semua sudah sepakat. Kita bangsa yang besar memiliki sejarah panjang yang melelahkan, tentu semua ini menjadi bagian dari ujian setiap zaman. Dan zaman ini ujiannya adalah kecepatan teknologi yang begitu pesat, alih-alih ingin menguasainya, justru kita secara enggak sengaja, telah ‘dikuasai’ oleh teknologi itu sendiri. Misalnya, ponsel. Apakah bisa kita hidup tanpa menggunakannya sehari pun? Ya, bisa saja, tapi kita akan ketinggalan berita. Namun dengan senantiasa belajar bijak bergadget, insyaaAllah hari-hari kita tetap selamat.

….Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

-sumpah pemuda

Aku bersyukur di Indonesia ada bahasa persatuan, kebayang nggak seandainya enggak punya bahasa yang mempersatukan? Bisa-bisa aku enggak akan bisa nikah sama orang yang berbeda suku (lha bahasa sukunya beda, katakanlah jawa vs sunda). Hihi.

Intinya, penting mengenal bahasa Indonesia yang baik dan benar agar kosakata kita enggak stagnan pada satu atau dua kata saja. Aku jadi ingat nasihat guru bahasaku dulu, “Pelajari sastra Indonesia, kamu akan jatuh cinta padanya.”

Jujur saja, pelajaran bahasa Indonesia sejak SD diajarkan dengan cara yang kaku dan kurang menarik dibandingkan bahasa Inggris. Tapi itu di sekolahku sih, wkwwk. Hingga aku minat menyukainya betul saat SMA.

Bahasa itu menunjukkan kepekaan rasa. Bahasa yang baik menunjukkan budi yang baik, keluhuran adab dan martabat yang tinggi (ini menjadi tantangan zaman kini, dimana etika mulai bergeser dari budi bahasa ke komunikasi yang staright, to the point- PR untukku).

Itulah kenapa aku jadi mulai suka pada genre fiksi. Bahasa luhur yang termaktub pada karya sastra betul aku rasakan, mampu menghaluskan dan menghidupkan hati.

Kalau menurut teman-teman?

Apa yang teman-teman pikirkan di hari bersejarah para pemuda ini?

Jawab dalam hati aja 🙂 dan mari kita do’akan mereka yang telah gugur mendahului kita. Semoga tenang di alamnya dan mendapat keberkahan dari-Nya. Amiin.

Sekali lagi, “Selamat hari Sumpah Pemuda!”


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *