DAILY

Memori Lama

Entah jadi sulit move on akhir akhir ini. Akibat sesuatu yg terurai lagi. Huft banget. Sesuatu yg sudah lama, sudah usang dan harusnya dibuang. Namun tidak bisa.

Antara harapan dan kenyataan yang jauh berbeda. Antara salah dalam menentukan sesuatu dan antara dipendam saja atau kutuangkan disini, tulisan sendiri.

Manusia, pada dasarnya memiliki otak yg mampu membukakan memori lama dan menyimpan memori baru. Namun sayang ada beberapa memori lama yg sangat kuat energinya digunakan saat itu sehingga walaupun ada memori baru yg lebih manis sekalipun tetap tertimpa. Itu yg terjadi pada diriku. Dan pada akhirnya mengurangi sebuah rasa, utamanya adalah “trust” atau rasa percaya.

Percaya atau tidak. Seperti robot saja, monoton dan pada akhirnya pekat bahkan berpendar. Tanpa cahaya. Jenuh bukan jenuh tapi intinya berusaha menambal hati yg terluka. Bukan masalah seharusnya jika memang tidak ditanam di waktu yg tidak tepat.

Senyum yang dipaksakan, mengasuh setengah hati dan segala sesuatu yg membuncah. Ingin pergi dan lari tapi tau diri. Hadapi. Walau tertatih.

Kota Pahlawan
5 tahun aku bersamamu. Bercanda, belajar, mengerjakan projek dan banyak hal yg sangat luar biasa dg teman leviathan, jurusan dan fakultas bahkan lintas fakultas dan kampus. Disana bebas namun tetap terikat saat itu, berat tapi tetap berjalan dg penuh semangat. Disupport teman yg begitu baik ūüôā yang saat ini sudah berbeda aktifitasnya.

Daerah Istimewa
Entah ketika pertama kali menginjakkan kaki ini di tanah itu, terasa berat untuk pulang kembali. Secara dulu ku memilih disana walaupun pada akhirnya ibu tidak ridho dan menyuruh tetap didalam wilayah sebagai pilihan utama. Oke nevermind. Namun 2009 berlalu, 2011 ku menginjakkan kaki disana. Ah manisnya kota itu. Manisnya penduduknya dan kenangan itu. Ingin kutuangkan semua masa itu dalam bayangan pena dan buku. Kamu, luar biasa ūüôā

Kembali lagi ke masa kini. Saya orang jawa. Dan sangat berbeda dg orang sunda. Bahkan beberapa sahabat dekat saya protes kenapa tdk di jawa saja bersama dg si dia dan dia sesama jawa. Bahkan beberapa bilang terlalu jauh jika belum mengenal penuh orang beda suku. Ah biarlah saya tau ini konsekuensinya, hingga pada akhirnya masih tersimpan. Kata2 yg terus terngiang itu… “Saya bukan yg seharusnya”

 

Dan saat ini lebih baik tetap terus belajar (mencintai) dan menikmati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *