surat untuk ayah

sore ini..tiba-tiba teringat…

surat-untuk-ayah3

AYAH…

walaupun ayah sudah tidak peduli padaku.. aku tetap berusaha mendoakannya.

aku tau, sejarah ayah dan ibuku di masa lalu..

ayah yang terpikat pada kecantikan ibu, berusaha menjampi-jampi untuk dijadikan istrinya. cinta yang ternodai oleh kesyirikan, pasti kan mudah pudar.

faktanya memang demikian, ketika ibu tau telah dibohongi. mengaku perjaka ternyata ayah adalah seorang duda beranak satu. istri mana yang tidak sakit hatinya, ditambah ayah mudah selingkuh 🙁

1992

aku ditinggal begitu saja, sosok bayi yang tidak tau bagaimana nasibnya.. ayah ibu pergi begitu saja.

siapa yang tidak terluka? aku seorang anak yang pasti butuh kasih sayang ayah dan ibu.. tetapi justru ditinggal begitu saja..

masih kuingat..

1994

ketika hujan dan petir itu menggelegar, ayah dan ibu bertengkar. ayah membenturkan kepala ibu ke tembok hingga berlumur darah, aku menjerit ketakutan.

ketika aku meminta jajan es krim, ayah memarahiku. padahal saat itu aku belum TK.

ketika aku masih asyik makan kacang kulit, ayah memarahiku karena sudah larut malam belum tidur.

seolah-olah aku ini anak yang kehadirannya tidak diperlukan.

setelah kalian berdua bercerai, kakek nenek senantiasa menanamkan pada pikiranku bahwa ayah sudah tiada. sehingga ketika tetangga dan orang bertanya, “siapa ayahmu?” maka otomatis ku menjawab, “sudah mati.”

itu tertanam hingga aku beranjak dewasa..

aku menjadi pribadi yang haus akan kasih sayang. beruntung aku mampu merebut perhatian orang dengan prestasi di sekolah. walaupun dalam hatiku, seharusnya ayah dan ibu lah yang harus bangga pada prestasiku.

ayah…..

kau tidak akan pernah tau bagaimana rasanya 20 tahun hidup tanpa dirimu

hidup tanpa contoh kebaikan seorang ayah, hidup tanpa nafkah darimu

hidup dengan perasaan miris dan kebingungan “dimana orangtuaku”

ayah….

aku tau mungkin kau berharap aku mati

karena percobaan pembunuhanmu kepadaku tidak pernah berhasil

hingga di meja kepolisian itupun kau tertekuk meminta maaf padaku

ingat ayah, Allah masih sayang padaku….

 

mungkin memang tidak untuk saat ini kau menyesali perbuatanmu

mungkin tidak juga di dunia ini..

walaupun aku berusaha mengikhlaskan segala kejahatanmu padaku

tetapi Allah Maha Tau segala isi hati 🙂

Ayah..

aku tau kabarmu tahun lalu

kau bersenang-senang dengan istri ketigamu, kau sudah menjadi orang kaya

kupikir kau cukup dengan 3 istri, tetapi ternyata kau selingkuh lagi

kemanakah ilmu agamamu itu?

tidakkah kau berfikir bagaimana psikologis anak istrimu?

Ayah..

aku bersyukur tidak berada didalam rumah tanggamu

aku bersyukur pada Allah yang memberikanku kesempatan mengenyam ilmu

aku bersyukur mengenal islam

islam sesungguhnya..

bukan ajaran islam yang kau ajarkan itu 🙁

Ayah…

seandainya aku boleh menuntut..

bolehlah kuhitung nafkahku..

seandainya sehari ku menuntutmu 10 ribu rupiah saja, maka bisa jadi nafkahmu padaku ternominal 10rb x 30 hari x 12 bulan x 20 tahun 🙂 (sekitar 72 juta -murah kan ya)

Ayah…

tidak masalah bagiku harta

karena aku yakin hanya Allah sajalah yang mampu mencukupiku 🙂

tidak masalah bagiku tidak mendapat perhatian

karena aku sudah melewati masa-masa golden age (7tahun-an)

tidak masalah bagiku kau tidak menganggapku lagi

bahkan aku tidak akan menuntut harta warisan darimu

aku tidak ingin mengganggu kesenanganmu

Ayah…

20 tahun kau tidak mendidikku, 20 tahun kau tidak memberiku nafkah, 20 tahun kau berusaha membunuhku

tetapi insya Allah, aku disini diberi petunjuk oleh Allah untuk tetap tegar menghadapinya..

Ayah..

aku hanya ingin menolongmu…

aku berjilbab, agar kau tidak tertimpa dosa putri yang tidak menutup auratnya

aku tidak pacaran, demi mendapatkan seseorang yang memang betul betul serius menjadi suamiku. ku berusaha agar tidak seperti gadis lain yang mencoreng muka ayahnya dengan aib di keluarga (pacaran-hamil di luar nikah)

aku menuntut ilmu agama demi akhirat kelak

mencoba menghafal demi dapatkan mahkota untuk orangtua..

tidakkah kau dengar itu ayah??

batinku tersiksa ayah.. ketika kemarin kutemui dirimu di rumahmu.. kau membuang muka

seolah-olah aku ini anak yang sudah kau kubur hidup-hidup

tidakkah kau melihat aku sudah menjadi gadis remaja yang berusaha sholih? mengunjungimu untuk mengetahui kabarmu

Ayah…

tidakkah kau malu pada malaikat kiri dan kananmu

tidakkah kau takut diberi pertanyaan : “mana kewajibanmu pada putrimu” kelak

Ayah…

aku tau, kau sudah putus hubungan dengan ibuku

tetapi tidakkah kau tau bahwa aku ini darah dagingmu?? aku tidak putus, ayah!! hingga akhirat kelak..

aku hanya takut..

punggungmu miring karena ketidakadilanmu itu..

kemanakah ilmu pesantrenmu itu? kemanakah gelar “kustadz” mu itu??

di akhir surat ini..

aku hanya meminta satu padamu,

mohonlah kelak ayah mau datang menjadi wali pada pernikahanku..

apabila kau mau datang dan mau menjadi wali, semoga keberkahan menyelimuti hati

apabila tidak peduli dan tetap mengingkari, semoga Allah mengampuni..

biarlah Allah sajalah yang menilai hati-hati ini..

 

*untuk yang membaca isi curhatanku di atas..mohon doakan ayahku ya, namanya Mohammad Sulfiadi, Jawa Timur.

untuk para orangtua.. ketika anda memutuskan untuk bercerai.. pikirkanlah kembali, bahwa korban sesungguhnya dari perceraian itu bukanlah anda sekalian wahai suami-istri, melainkan ANAK-ANAK kalian.

seorang anak yang kedua ortunya bercerai pastilah ‘berbeda’ psikisnya dengan anak-anak lain. ingatlah, ada suatu masa ketika peran ibu tak tergantikan dengan ayah dan peran ayah yang tak bisa digantikan dengan ibu. itulah yang anak-anak butuhkan. 🙂

semoga ayah di seluruh dunia ini mampu menyayangi anak-anaknya sebagaimana orangtua kalian menyayangi anda di masa kecil. 🙂

 

 

Tinggalkan Balasan