Tahu Tek- Makanan Tradisonal Khas Surabaya

Hai Rulis-ers! Jumpa lagi dengan saya, yang suka ngeblog suka-suka disini. Kali ini saya sedang mengikuti tantangan menulis dari Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Bogor. Kalau boleh dihitung ini tantangan ketiga yang saya arsipkan disini (tantangan sebelumnya bisa dicari di list kategori blog : Rumbel Menulis)..

Pertama-tama saya sampaikan terimakasih kepada pembaca yang sudah berkenan mampir kesini, semoga pembaca sekalian bisa tahu apa itu tahu tek-yang konon semakin hari semakin sedikit orang yang lihai membuatnya bahkan penjualnya 🙁
Penjual Tahu Tek makin jarang ditemukan. Di tengah pengaruh modernisasi dan menjamurnya restoran cepat saji, kuliner tradisional yang satu ini makin kehilangan tempat dan pembeli. Udah tahu kan Surabaya merupakan kota terbesar kedua setelah Jakarta?

Kedua, sejujurnya pas lagi nulis ini tuh saya jadi ngiler, laper dan mupeng sama tahu tek ini. Pasalnya udah lama banget enggak menikmatinya -terakhir tahun 2013 pas masih di kampus sukolilo ITS-  dan di Bogor ini enggak ada yang jual itu makanan wkwkwkk.

Ketiga, isi dari postingan ini membahas seputar asal muasal tahu tek, rasanya, review ala-ala, lampiran resep serta cara masaknya (jika ada yang berminat mencoba di rumah) dan tentu sedikit tips memilih bahan apa saja yang dibutuhkan (sok-sokan ngerti aja, wkwkwkk padahal diri ini cuma konsumen). Di akhir postingan akan saya lampirkan sumber video dari potongan gambar yang saya ambil.

Oks, jadi tahu tek itu apaaaa?

Tahu tek ituu makanan khas, yes khas sebabnya enggak bisa diduplikasi dan hampir enggak ada pula di daerah lain (bahkan sepropinsi dengannya pun). Khas hanya ada di Surabaya.

Kenapa namanya tek? tahu ‘tek’?

Kalau dari sumber bacaan yang saya baca (wikipedia) disebutkan bahwa itu bersumber dari suara ‘tek-tek’ wajan yang dipukul-pukul oleh penjualnya. Namun ada juga yang menyebutkan kalau suara itu berasal dari gunting yang berbunyi ‘tek-tek’ saat memotong telur dan tahunya-artinya tak perlu menunggu waktu lama lagi, tahu tek siap dihidangkan- sebab kekhasan itulah namanya menjadi tahu TEK.

Tentu cerita mana yang shahih, saya kurang tahu. 😅 terpenting bagi saya, ini tuh makanan kuliner favorit wkwkwk, soalnya enaaak 😂 dan khas.

Biasanya di Surabaya (sekitar tahun 2013) harganya bervariasi tapi masih terbilang murah. Mulai dari delapan ribu rupiah hingga dua belas ribu rupiah. Kalau sekarang saya kurang tahu berapa 😅

Tahu tek biasanya dijual keliling, penjualnya bawa rombong (semacam gerobak dorong mirip gerobak bakso). Ada yang menjual keliling kosan, ada pula yang stay di suatu tempat dan menggelar tikar. Tahu tek umumnya ramai di malam hari, ada juga sih yang siang hari. Tapi kini, kabarnya sudah mulai langka penjualnya. Sebab selain membutuhkan bahan yang khas (petisnya dari sidoarjo yang enak) juga membutuhkan keahlian memasak yang cepat (karena semua bumbu diulek secara manual dan memotong tiap porsinya juga membutuhkan kondisi badan yang gesit, cepat).

Misalnya mau membuat sendiri bagaimana?

Bisa saja, tapi saya enggak menjamin ya rasanya 😅 terpenting bahannya oke tersedia dan kitanya perlu trial-error .. insyaaAllah bisa menemukan cita rasa yang khas itu juga.

Cukup mudah untuk membuatnya.

Bahan isinya :

  • 2 buah lontong ( @ 100 gr/buah ), dipotong-potong agak tebal
  • 2 butir telur ayam segar
  • 4 buah tahu ( @ 50 gr/buah ), dipotong – potong kotak –kotak kecil
  • 1 ¼ sendok teh garam
  • 200 ml minyak untuk menggoreng

Bahan halusnya :

  • 3 biji cabe rawit ,digoreng sebentar ( berapa banyaknya cabai sesuai selera )
  • 2 siung bawang putih
  • 100 gr kacang tanah goreng, buang kulit
  • 1 ¼ sdm petis udang sioardjo
  • 2 sdm kecap manis bango ( sesuai selera )
  • 150 ml Air matang
  • Garam, secukupnya
Bahan pelengkap :
  • 50 gr daun bawang, diiris halus
  • 150 gr tauge, rebus sebentar dengan air panas, angkat,sisihkan
  • 25 gr daun seledri, diiris kasar
  • Bawang goreng secukupnya

Oia, ukuran diatas bebas ya, sebenarnya yang saya bilang trial-error tadi bisa jadi resep itu pas dan bisa jadi kurang pas. Makanya kita perlu banyak mencoba, semangat!

Cara membuatnya cukup mudah.

Pertama, ulek dulu kacangnya tapi jangan terlalu lembut. kalau jaman now males ngulek bisa menggunakan bantuan grindernya blender.

Kedua, goreng telur dan tahunya. Untuk telur dikocok dulu, aduk cepat dan lepaskan ke wajan. Tunggu hingga matang. Khusus tahunya goreng setengah matang aja.

Karena kusuka telurnya, jadi saya tampilkan cara gorengnya ya. Ini sebelum matang:

Setelah matang, agak kecoklatan kriuk gituu, angkat.

Ketiga, proses membuat bumbunya. Cukup mudah, dari cabe, garam, bawang kemudian campurkan kacang, campur petis (yang enak, petis sidoarjo) dan terakhir kasih kecap.

Khusus cabenya bisa rekues sesuai selera, jadi bisa pedas banget dan bisa yang enggak terlalu pedas.

Oia, jangan lupa air matang disiapkan juga supaya jadi agak cair bumbunya. Karena kacangnya kan agak seret.

Terus petisnya ini, hmmm pokonya khas bangetlah. Kalau petisnya gak pas, rasanya jadi kurang khas.

dan tentu, kecapnya maknyuus. Inilah yang membuat rasa tahu tek gurih, manis enakkk.

Keempat, memasukkan bahan isian. Nah inilah proses yang khas dalam menyajikan tahu tek, menggunaan gunting yang tek-tek itu..

Gunting telur dan tahunya.

Kemudian tambahkan lontong.

Tambahkan tauge pendek (udah mateng) dan kerupuk, kemudian siram dengan bumbu tahu tek.

Kelima, tahu tek siap disantap, nyuuummyy~

Oia, tips memilih alat guntingnya biasanya mamang-mamang penjual menggunakan gunting yang enggak bikin pegel tangan, seperti ini :

Guntingnya empuk, tapi bisa bunyi tek-tek gitu, logamnya juga aman untuk makanan panas.

Tahu tek yang saya suka yang kerupuknya kecil-kecil polos. Atau kerupuk ikan dari gresik, itu wenaak banget, kerupuk udang kalau orang bilang tapi kan kerupuk udang tuh yang digoreng lebar kotak ya kalau di pasaran. Sedangkan kerupuk yang pernah saya makan versi mini gitu (ada enggak ya kalau beli di warung/ toko sembako, hehehe -_-)

Saya udah lupa siapa nama penjual yang dulu suka keliling malam-malam di kosan. Pokonya sangat dinanti, menjadi teman pengeyang perut di saat tugas-tugas bejibun (suka lembur malam).

Penggemar tahu tek ini selain anak kosan juga para pekerja malam. Katakanlah para programmer yang rajin ngoding (saya pernah part time di warnet milik seorang programmer, makanan favoritnya sama, tahu tek wkwkwk).

Demikian review ala-ala dari saya, semoga bermanfaat 🙂

Jika ada yang ingin didiskusikan bisa klik komen di bawah, sampai jumpa pada tantangan selanjutnya.

Dokumentasi foto :

Sumber dari Video id.tastemade

Future photo dari pegi-pegi

Tinggalkan Balasan