DAILY REVIEW

The Joy of Less

Hari kedua dari bulan Januari 2021. Saya gunakan untuk mereview sebuah buku. Buku ini sebenarnya sudah lama pernah saya baca, namun harus saya baca lagi karena ada part yang terlupa, baru kepikiran untuk saya posting di blog ini ya hari ini. Karena tingkat kemalasan mengunggah konten berkebalikan dengan tingkat membaca saya, jadi ini isinya konten buku yang sungguh expired, tidak fresh lagi sebab bacaan saya hari ini bukan lagi buku ini. Namun karena relevan dengan apa yang saya tulis di buku terbaru saya, yasudahlah saya unggah saja. Oleh karena itu jika pembaca blog ini sudah membaca buku karya Francine Jay yang ini, lewatkan saja post blog ini karena seharusnya saya unggah di tahun 2018 lalu Wkwkwk malah baru bisa diunggah awal tahun 2021. Namun kalau penasaran dan belum pernah baca, boleh ikuti hingga post blog ini berakhir.

  • Judul Buku : The Joy of Less, a minimalist living guide, how to declutter, organize, and simplify your life
  • Penulis : Francine Jay
  • Tahun Terbit : 2010
  • Penerbit : Anja Press, Medford NJ
  • Jumlah halaman : 313 halaman
  • Format : .epub (dibaca di Kobo e-reader)

Saya membaca buku ini, akhir tahun 2018. Seusai menerbitkan buku solo pertama saya, KonMari Mengubah Hidupku’. Awalnya penasaran setelah membaca buku minimalisnya Fumio Sasaki (yang terbit tahun 2017). Saya mulai menelusuri berbagai referensi hidup minimalis, salah satunya karya Francine Jay alias Miss minimalist ini.

For your information, di Barat sana, hidup minimalis mulai marak setelah berbagai blog yang membahas tema tentang ini. Saya menemukan blog the minimalist dari duo minimalist, Zen habit Leo Babauta, Becoming Minimalist blognya keluarga minimalist alias Joshua Becker hingga blog Miss minimalist milik Francine Jay. Semuanya berasal dari Amerika. Saya membaca buku-buku mereka dari akhir 2018 hingga awal 2019.

Btw, saya nulis review ini bukan berarti paling sesuai ya karena review ini sudah bercampur dengan opini. Dan saya menulis review ini untuk mengisi waktu saja, saat perjalanan pulang dari rumah mertua daripada bengong gak jelas kan, karena saya terdistraksi dengan suara musik mobil jadi saya gunakan untuk menulis. Konsentrasi untuk membaca di saat ada musik jauh lebih rendah dibandingkan saat menulis. Entahlah, saya lebih mudah fokus menulis dalam kondisi apapun dibandingkan membaca. Bagi saya, membaca (buku, bukan mendsos ya, beda lagi ceritanyaaa kalau baca medsos bisa every where, anytime) membutuhkan fokus ekstra sebab jika menulis ini aktivitas mengeluarkan isi kepala, sedangkan membaca membutuhkan energi untuk menyerap energi dari buku kedalam kepala.

Jika ingin tahu jelas bagaimana isi bukunya, sebaiknya baca bukunya langsung ya. šŸ¤—

Inti Buku

Buku ini membuka wawasan dengan menempatkan filosofi di awal, kemudian pada chapter kedua membahas tentang metode STREAMLINE, setelah itu berbenah dari ruangan satu ke ruangan lain (sudah mulai action-nya). Terakhir membahas minimalis dari sisi gaya hidup (lifestyle).

Philosophy

  1. See your stuff for what it is.
  2. You are not what you own.
  3. Less stuff = Less stress.
  4. Less stuff = More Freedom.
  5. Become detached from your stuff.
  6. Be a good gatekeeper (yang dimaksud di sini sebagai penjaga batas untuk barang, berikan batasan untuk jumlah barang sehingga perlu memikirkan dalam menempatkan barangnya, jangan berlebihan).
  7. Embrace space.
  8. Enjoy without owning.
  9. The joy of enough.
  10. Live simply, so that others mau simply live.

Metode STREAMLINE

  • Start over
  • Trash, treasure, or transfer
  • Reason of each item
  • Everything in it’s space
  • All surface clear
  • Modules
  • Limits
  • If one comes in, one goes out
  • Narrow it down
  • Everyday maintenance

About Lifestyle

  • Streamline your schedule
  • The greater good

Pendapat Tentang Buku

Setelah membaca buku ini, dua tahun lalu, di bulan Februari 2019 saya mendapat kabar buku keduanya hadir (setelah hampir 9 tahun tak menerbitkan buku baru) dengan konsep lanjutan dari Francine Jay. Judulnya lightly, kapan-kapan saya bahas di sini. Semoga sempat.

Lantas, bagaimana isi buku Joy of Less menurut kamu?

Menurut saya buku Joy of less inti sarinya hampir sama dengan buku minimalis yang lain sebab tak ada rumus baku dan buku mana yang dianggap ‘benar’ sebelum kita praktikkan dan coba. Sebab tak ada konsep mutlak dalam hal berbenah, itulah kenapa prinsip personalizednya Gemar rapi tersemat didalam metode karena setiap individu tentu berbeda.

Menanggapi buku keduanya, yang lightly, justru jauh lebih saya butuhkan saat itu dan lebih simple atau memudahkan dibandingkan dengan decluttering di Joy of Less ini. Mungkin karena saya sudah terbiasa decluttering barang-barang (physical clutter) sehingga saat membaca buku Joy of Less ini menjadi terasa biasa.

Hanya ada satu poin yang penting dan menurut saya hal ini beririsan dengan konsep gemar rapi, yaitu maintenance. Bagaimanapun, perawatan itu jauh lebih penting sebab akan membentuk habit. Berbenah yang membangun kebiasaan. Bedanya, dengan hidup minimalis, maka tak akan berat karena hanya merawat yang sedikit dibandingkan jika kita memilih maksimalis. Artinya energi jauh lebih hemat dan efisien.

And the last, I want to say, “yes, I’m minimalist.”

šŸ¤—

Tinggalkan Balasan