BEROPINI DAILY EDUKASI PARENTING

The Social (Media) Dilemma

Seperti yang saya post sebelumnya, saya merasa teradiksi oleh gadget khususnya media sosial. Beberapa hari ini, saya nonton film dokumenter yang ada di Netflix yang baru tayang pada tanggal 9 September 2020 lalu. Trailernya ini (namun jika ada yang ingin melihat versi fullnya, bisa langsung ke netflix ya) :

Saya di sini hanya ingin menceritakan apa yang ada didalam benak kepala saya tatkala menonton penuh dokumenter berdurasi 1 jam 34 menit 36 detik tersebut. Mungkin ada yang merasa hal ini dianggap aneh, atau sebaliknya merasa relate maka apapun pendapat kalian, bebas ya. Asalkan kita saling sama-sama menghargai.

Disclaimer! Dalam post blog ini, saya tidak akan memberikan komentar terkait para cast film atau aktor pemain filmnya (jika bisa dikatakan demikian). Juga dalam hal ini, saya juga tidak memberi komentar terkait aktingnya, karena saya tidak ahli dalam hal itu. Saya hanya mengambil intisari dari wawasan yang sudah diberikan oleh para narasumber di film.

Saya mendapat beberapa pandangan yang mengubah sudut pandang awal yang pada akhirnya membuat saya offline beberapa waktu, merenung.

Pengguna = Adiksi

Apa itu Media Sosial?
Social media is websites and applications that enable users to create and share content or to participate in social networking.

Nah! Coba cek dari definisinya. Menurut film dokumenter ini, hanya ada dua organisasi atau kelompok di dunia ini yang menyebut pelanggan mereka sebagai user atau “pengguna” yaitu para pengguna obat-obatan (baca : Narkoba) dan pengguna perangkat lunak.

Pernyataan ini jelas agak ‘menampar’ banyak orang (saya sendiri sih) sebab keduanya memiliki kesamaan atau agak mirip dari segi efek, yaitu adiksi. Kecanduan. Bedanya, adiksi gadget (dalam hal ini media sosial) seolah-olah tampak wajar dan normal karena selama ini memang digunakan sebagai kebutuhan. Namun di satu sisi, menjadikan diri ketergantungan.

Mungkin setiap orang yang hidup di dunia ini, siapapun itu akan merasa sadar jika kecanduan narkoba, sementara untuk media sosial. Sangat invisible. Bagaimana tidak? Bisa jadi, dari bangun tidur hingga tidur lagi, kita tak lepas dari memegang gadget, update status, berita dan konten. Hal itu pula yang selama ini saya lakukan. Mengerikan! Betapa cara kerja kepala yang mudah terdistraksi karena gadget jika tidak segera dihentikan, bisa memakan banyak penyesalan. Salah satu penyesalan saya adalah naskah buku yang tak kunjung saya selesaikan hingga awal bulan di awal tahun ini. Miris!

Setiap gerak-gerik Aktifitas saya di Media Sosial, diawasi untuk Dijual.

Dalam film tersebut, media sosial disebut sebagai pabrik dimana kita sebagai pengguna (data yang kita input) digunakan sebagai produk yaitu berupa algoritma. Media sosial mendapat bayaran dari iklan, dalam hal ini pengiklan adalah pelanggan mereka dan kitalah produknya. Algoritma dan detail data juga bisa ‘dimainkan’ sesuai pesanan.

Jika cukup jeli, saat kita membuka medsos, yang muncul di explore, menampilkan apa yang ada dan memang betul ingin kita klik dan perhatikan. Sempat saya membuat analisis kecil-kecilan untuk pribadi, saat saya membicarakan oven di dalam grup whatsapp, iklan itu muncul di instagram. Kemudian saya coba membahas hal yang lain, esoknya atau bahkan saat itu juga, muncul hal yang serupa. Mencengangkan.

Mudah Dimanipulasi dan Terpolarisasi

Manipulasi di sini artinya konteks berita atau tulisan yang ada di media sosial belum tentu benar. Bagaimana mungkin, seseorang menampilkan berita yang hanya bermodal sosial media? Semua orang bisa memiliki topeng yang berbeda dari tampilan yang belum tentu tak sama. Bukan sekadar salah kaprah dan menghasilkan berita yang penuh fitnah tanpa terkonfirmasi, bahkan mampu membuat seseorang kehilangan jati diri bahkan nurani.

Dalam skala yang lebih besar dan serius, bisa mengancam keselamatan seseorang dan sekelompok masyarakat juga. Misalnya kasus di Myanmar. Akibat postingan dan pendapat mayoritas yang demikian buruk terhadap umat islam, manusia yang sudah beratus-ratus tahun hidup di sana tanpa merugikan pihak manapun, akibat media sosial yang luar biasa, akibatnya suku itu dibantai dan diusir sedemikian jahatnya. Siapa lagi yang menjadi korban? kalau bukan suku Rohingnya yang tak memahami kenapa mereka sedemikian diincar dan tidak dimanusiakan oleh manusia-manusia yang konon ‘modern’ di sana. Menyesakkan.

Pun dengan polarisasi yang terjadi di masyarakat. Jangankan di Amerika (antara Republik versus Demokrat), sejak geliat media sosial meroket naik, polarisasi semakin besar dan ganas di Indonesia. Dari tahun 2014 hingga terakhir 2019 lalu sungguh mengerikan. Nyata dan nampak betapa hanya gara-gara paslon yang berbeda pilihannya, sampai memutus silaturahim hingga yang paling parah, terdapat korban atas nama demokrasi yang crazy.

Mindset yang Tidak Tumbuh

Jika pikiran kita ingin bertumbuh, ada yang mengatakan bahwa kita harus menerima perbedaan dan mau menyimaknya. Walaupun seandainya kita tidak bersepakat, bukan berarti kita dibenarkan untuk membenci atau yang lebih parah, membenci dan membalas keburukan padahal belum tentu itu benar.

Dari media sosial juga muncul bubble atau gelembung kelompok yang terbangun sebab kesamaan. Misalnya orang yang mendukung A maka akan sangat memproteksi diri agar A tidak boleh disakiti dan jika itu dirinya, maka Ia tak akan mau menerima pendapat di luar kelompoknya. Para bubble ini bisa dengan amat ketus dan galaknya jika ‘kenyamanannya’ diganggu bahkan bisa memporak-porandakan kondisi dan situasi.

Bagaimana Media Sosial Mempengaruhi Hidup Sehari-hari

Jangan bertanya bagaimana, saya sendiri saat ini berjuang untuk tidak ketergantungan dengannya. Media sosial begitu mengikat kepala dan meringsek perhatian sehingga membuat saya kekurangan fokus dan mindfulness. Itulah sebabnya, saya detoksifikasi medsos beberapa hari lalu hingga kini, mulai mengurangi hal yang tak perlu walau tak ekstrim langsung bisa ya.

Selain itu, adiksi sebab tanda love (pada instagram) atau jempol (like pada facebook) terkadang membuat seseorang kehilangan motivasi dari dalam, karena saat kita membuat sesuatu postingan, like, share dan komen dianggap sebagai prestasi. Sehingga begitu banyak konten yang mencari atau mengejar agar viral namun kehilangan esensi. Selain itu, saat kita memposting sesuatu, seolah-olah semua orang sepakat dengan kita padahal belum tentu. Tingkat depresi dan stress akibat medsos juga nyata adanya.

Inti dari Dokumenter ini adalah….

Hampir seluruh industri raksasa digital siap untuk mendapatkan uang tanpa mempedulikan kemanusiaan, jadi pertanyaan terbesarnya adalah siapa yang bertanggung jawab untuk membiarkan ancaman ini terjadi pada kita? Sebab tak ada yang bisa mengontrol mereka, tidak ada yang tahu bagaimana cara mereka memanipulasi manusia agar terjerat dari screen yang menyemprotkan candu untuk scrolling and scrolling anytime.

Selain itu, fim dokumenter ini juga menjelaskan bagaimana :

  1. ujaran kebencian dan informasi palsu menyebar melalui media sosial.
  2. Bagaimana mereka mempengaruhi secara harfiah semua bidang dunia modern termasuk demokrasi, bunuh diri, kekerasan massa, dst.
  3. Bagaimana cara kita untuk dapat mengontrol diri sendiri dan tidak jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh platform digital.

Dilema Sosial adalah film dokumenter yang Mengejutkan sekaligus mengusik diri. Namun walau sedemikian mengganggu (rasa nyaman saya selama ini) tapi mereka menyajikan data, narasumber, alur dengan sangat memikat. Mereka berhasil mengeksplorasi dampak berbahaya dari jejaring sosial bagi manusia, dengan pakar teknologi yang tepat (para mantan pembentuk awal media sosial). Menurut saya, tidak ada film lain yang lebih penting dari ‘The Social Dilemma’ saat ini, di tengah badai pandemi yang menguras isi hati dan jiwa untuk melekat dan teradiksi. Saya rasa, film ini menjadi ‘obat’ yang tepat.

Film dokumenter ini membuka mata saya dimana saya merasa terpanggil dan jadi tahu bahwa selama ini saya sedang dimanipulasi oleh media sosial. Medsos mampu menggunakan serta menguasai psikologi diri sehingga saya tak mampu melawannya kecuali hanya dengan mematikan tombol off. Dan luar biasanya, film ini mampu mengungkap kebenaran tentang big data, manipulasi, dan membuat peringatan langsung dari orang-orang yang merancang Facebook, Google, Instagram, Twitter, dll.

Teknologi ini memang tidak ‘menghancurkan’ kita sebagai manusia secara langsung. Namun secara langsung juga, pola hidup dan perubahan diri kita berubah sebab karenanya. Maka, fokus di kehidupan nyata dan hal-hal yang esensial adalah rekomendasi akhir dari film ini.

Penutup

Saya Sangat Merekomendasikan pembaca blog ini semua untuk Menontonnya SECEPATNYA! karena Ini adalah film dokumenter Terbaik & Paling Keras dan berdampak tahun ini sejauh saya menyaksikannya di awal tahun ini. Dokumenter ini cukup menjadi pemantik dan pendorong diri agar saya berubah dan mengubah perilaku terhadap adiksi media sosial.

1 thought on “The Social (Media) Dilemma”

Tinggalkan Balasan