DAILY

Untuk Nikmah, Dari Nikmah, Oleh Nikmah #BirthdaySeries

Kenapa Nulis Ini

Enggak tau juga, lagi ingin nulis aja, buat dibaca sendiri, hihi. Tapi intinya ini menjadi bagian dari rasa syukur bahwa Allah masih memberikan kesempatan hidup hingga detik ini.

Pada dasarnya, menghitung-hitung usia, bukanlah hal yang terlarang, jika memang diniatkan sebagai bahan muhasabah. Tentu ini bagian dari muhasabah diri bahwa perjalanan hidup ini sungguh secepat ini.

Jadi, kapan tahun kelahiranmu, Nik?

Masih kuingat, waktu SD, aku diminta mengisi surat keterangan dari guru untuk mengurus akta kelahiran. Pas ditanya, aku lahirnya kapan? Ya mana kutau, hahaha. Maka, aku sodorkan surat itu kepada Almarhum kakek, katanya, “Tulis sendiri aja, udah kelas 6 mau lulus kan bisa.”

Well, setahuku aku lahir 26 November, untuk tahunnya, ini perdebatan. Dari kecil, aku enggak tinggal lama dengan ortu, langsung diasuh kakek nenek. Plus emang enggak pernah dikasih ASI (ini bonding enggak ada sama sekali jadinya), kata ibuku, akunya enggak mau (disini aku enggak begitu yakin si, beneran begitu atau enggak). Waktu ngisi form itu, ibuku enggak ada di rumah, entah pergi pamit kemana aku enggak ngerti, katanya jd TKW, tapi bagiku, whateverlah yang penting aku udah sama emak.

Kata emak (nenek), aku lahir setelah Dina lahir (ini nama teman kecilku, Nah, setahuku, Dina ini lahir tahun 1991), selisih setahunan lah, jadi kesimpulannya aku lahir 1992. Ditambah bukti bahwa ibuku menikah (di buku nikahnya terpampang jelas) pada tengah tahun 1990, jadi logikanya enggak mungkin ibu nikah tahun 1990 mau habis, aku lahir 1990 juga. Ditambah penuturan tetangga bahwa ketika aku masih bayi merah procot, Mbak Wulan sudah berusia hampir 2 tahun sudah lari-lari, akunya masih berbentuk bayi merah. Nah, mbak Wulan ini, kelahirannya akhir tahun 1990. Ya masa aku yang bayi, lahirnya disamain sama anak yang udah bisa lari-lari dan ngoceh?

Namun, karena aku konfirmasi ke mbah, aku harus nulis 1990, biar sama kayak yang lain -_- (well, aku masuk sekolah ditengah anak-anak sekelas yang kelahirannya 1988-1991) yasudah, aku tulis 26 November 1990. Soalnya aku lahir di dukun beranak, enggak punya surat-surat apapun itu.

Pembuatan akta itu digunakan sebagai syarat pendaftaran SMP, waktu itu ada program gratis dari dispenduk untuk anak-anak yang ekonomi lemah, enggak punya akta, dibuatkan massal (ya mirip-mirip sunat massal lah, hehe).

Jadi, usianya berapa nih?

Kalau dicek dari akta dan ktp yang tersetting 1990, aku udah berusia 29 tahun per hari ini. Namun, jika dilihat dari riwayat asal, aku 27 tahun 🙂 karena temanku, Dina, 28 tahun usianya, kami selisih setahun, lebih tua Dina dariku.

Mau ngucapin apa pada diri kecilmu, Nik?

Aku bukanlah orang yang romantis. To the point aja. Semoga tetap semangat belajar, berkah usia dan terus berusaha menjadi seorang perempuan, istri, ibu dan anggota masyarakat yang baik serta shaliha. Amiin.

Ada lagi?

Enggak, udah gitu aja.

Oia, aku masih ada utang cerita Rayya (fiksi- penyendiri) yang rencananya aku publish tamat bulan ini. Semoga bermanfaat ya. Soalnya ada beberapa modul yang belum aku selesaikan bacanya (inginnya bahas mental health gitu untuk nyelipin ilmu di cerita tsb.)

Buat yang sudah mendo’akan, aku ucapin makasih banget, do’a yang sama tertuang dan kembali untuk kalian juga.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *