EDUKASI PARENTING REVIEW

WMHS : Write Me His Story

Introduction

Apakah kalian pernah nulis diary? kalau aku, jujur, pernah. Sejak SD.

Bagi generasi 90-an tentu familier dengan agenda tukar kado ultah, tukar isi binder sampai nulis diary bergilir. Aku sendiri pernah punya diary khusus bersama sahabat kecilku. Dan novel WMHS ini mampu merepresentasikannya secara jelas, nyata dan logis tentang buku diary.

Waktu paket buku hari jumat kemarin datang (25/10/2019), aku langsung melahap semuanya bertahap, tapi tanpa henti. Paling berhenti saat udah kelelahan. Bahkan aku tidur sambil memeluk buku ini, seolah enggak mau lepas.

Novel ini amat sentimentil buatku, secara langsung aku sampaikan ke penulisnya, aku butuh novel ini tapi yang ada tandatangan dan pesan dari beliau. Hari kamis aku DM via IG, jumat udah tiba di rumah, sabtu siang aku udah beres membacanya. Pas sabtu malam, malam minggu, di hari itu juga aku terkena serangan hebat sakit kepala. Hari ini, aku berpikir, bisa jadi ini kejadian kemarin, merupakan bagian dari reaksi- detox di tubuhku efek dari membaca novel ini.

Paket buku karya Bunda Ary

Lho kok bisa Nik?

Iya, aku punya innerchild yang hampir mirip dengan salah satu tokoh yang ada di cerita ini. Tokoh utamanya, namanya Wynter. Entahlah, pokoknya abis baca novel ini aku sakit, tapi hari ini, minggu, aku sudah sembuh. Ajaib. Mual-mual dan sakit kepala hebatku hanya terjadi semalaman saja.

Aku hampir jarang sakit, tapi sakit mendadak setelah baca buku kayak gitu, aku akui, sama sekali belum pernah terjadi.

pesan bunda Ary

Detail Novel

  • Judul buku: Write Me His Story
  • Penulis : Ary Nilandari
  • Penyunting : Prisca Primasari dan Rangga Saputra
  • Ilustrator : Muhammad Kumara Dandi
  • Desain Cover : Tim Redaksi dan Deni Sopian
  • Penerbit : Pastel Books
  • ISBN : 978-602-6716-40-8
  • Cetakan ke-1, Agustus 2018
  • Page : 448 halaman
  • Pembaca : Usia 15+

Wynter Mahardika seorang lelaki blesteran Indonesia-British, enggak pernah menulis buku harian sama sekali. Untuk apa? Enam belas tahun hidupnya berantakan. Mum, Dad, Ibu tiri, saudara tiri, hanya singgah sesaat lalu membiarkannya tumbuh seperti semak liar. Enggak ada yang menarik selain mata birunya yang indah dan kejailannya pada cewek-cewek. What? Jail? A, itu cuma pelampiasan kebenciannya pada makhluk satu itu.

Lalu muncul tokoh yang berkebalikan dengannya, seorang lelaki, adik kelas yang inisial namanya sama : WM. Wynn Maharesi, sesosok yang mengincar dirinya hanya untuk menggantikan posisinya untuk menuliskan buku diary bersama seorang sahabat dekatnya, Hyacintha.

-wmhs (blurb)

Ikhtisar Dariku

WMHS bukanlah sembarang diary (write me hiStory #wmhs – aslinya, tapi kemudian oleh Wynter dianggapnya ini sebagai diary Wynn – sehingga dia ubah menjadi kalimat ‘write me his story). Namun sepanjang cerita mengalir, ini bukan hanya diary receh, bagiku, talenta Wynter yang memiliki bakat linguistik-kombinasi auditory yang sungguh menakjubkan diriku. Dan entah kenapa hampir semua tokoh karya Bunda Ary selalu identik dengan kedekatan mereka terhadap buku. Sehingga hampir semua karakternya kaya kosakata dan menyukai dunia literasi. Poin plus bunda aku akui, itu.

Novel ini memancarkan banyak hal, berbagai nilai perjuangan, persahabatan, pengorbanan, makna, pelajaran keluarga hingga mampu mengaduk memelintir jiwa -sedih, haru, tawa- efek dari tatanan bahasa karya Bunda Ary, author kesayanganku.

Selesai menamatkan buku ini (tanggal 26 bulan Oktober ini) -duh, kemana aja selama ini Nik?- aku semakin yakin bahwa selalu ada jalan dan hikmah dari setiap perjalanan hidup. Aku jadi banyak belajar dari Wynter.

Seperti apa kisahnya? aku enggak mau spoiler disini (semoga ini bukan spoiler ya bunda), lebih baik baca langsung, baca versi asli ya, jangan beli buku bajakan. Hehe.

karya Bunda yang aku koleksi di rumah, semua asli, bertandatangan.

Penutup

Selesai membacanya, aku jadi flashback zaman SMA. Pernah tuker surat bersama seorang sahabat lelaki, rutin tiap hari, beda kelas tapi memang nyambung. Waktu itu tukeran puisi, aku cukup senang karena selama di sekolah, hampir jarang aku jumpai teman yang mau concern menanggapi dan berbagi karya semacam puisi dan sastra bahasa.

Dari cerita wmhs ini, aku jadi ingin menjumpai ortuku lagi. Jika Wynter ingin berjumpa mumnya, aku ingin menjumpai ayah kandungku -tapi aku takut sebab dulu sudah pernah ditolak- dari SMA, waktu kuliah, mau lulus bahkan terakhir waktu aku mau nikah, ayahku enggak mau hadir dan mengatakan aku enggak ada lagi urusan dengannya.

Semoga siapapun yang baca ini, semoga bisa sambungkan tulisanku pada ayah kandungku ya.

Buat Bunda Ary, terimakasih banyak. I love you.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *