BEROPINI DAILY

Writing for Healing

Menulis adalah saudara kembar membaca. Itu yang saya yakini dan percaya dari dulu. Saya menulis karena saya membaca dan karena membaca maka saya menulis. Tak jarang saya lebih sering ditemui di perpustakaan dibandingkan di tempat lain ketika zaman sekolah. Dan kini, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengetik dibandingkan dengan berurusan dengan kegiatan domestik.

Menulis bagi saya merupakan terapi menuju kesembuhan. Masih ingat bukan, pada buku pertama saya, KonMari Mengubah Hidupku. Pada bagian tengah dan akhir saya jelaskan problem mendalam dalam diri saya yang berkaitan dengan inner child yang negatif.

Saya masih menyimpan luka yang tak nampak, berupa perasaan kurang nyaman akibat akumulasi dan kejadian ritmis yang tak mengenakkan di masa kecil. Hal ini membawa pengaruh dalam kehidupan pribadi dalam kurun waktu yang sangat panjang.

Sikap lingkungan yang dingin, sifat dasar yang introvert ditambah kawan yang lebih banyak ditemani oleh buku membuat saya lebih banyak berpikir dibandingkan bersuara (mengeluarkan suara). Saya masih ingat, sejak saya mampu membaca buku sendiri, hampir setiap hari saya meminjam buku ke perpus. Sampai-sampai petugas perpusnya kesal karena saya sangat sering meminjam buku dan banyak mengambil kartu baru yang kosong sebab kartu lama cepat sekali penuhnya. Haha.

Saya juga masih ingat, setiap kali saya marah, yang saya lakukan adalah membalik buku tulis yang kosong. Kemudian saya menulis secara random apa pun yang ada di kepala. Saat itu saya belum memahami bahwa itu lah bagian dari terapi untuk merelease emosi negatif.

Kebiasaan menulis juga menjadi wadah atau tempat atau keranjang kepala yang berputar ide sangat banyak dan menyeruak begitu saja. Saat masih SD, seringkali buku tulis saya penuh dengan tulisan cerita dan kata dibandingkan dengan isi materi pelajaran. Hal ini tak saya sadari hingga salah satu guru saya menegur dan mengatakan bahwa saya over to day dreaming (banyak ngelamun dan jadi aneh hehe). Walau pun demikian, saya tetap bersemangat untuk menunjukkan bahwa walau menjadi seorang pemimpi (dreamer) tapi juga punya harga diri dan mampu meraih prestasi. Yakni dengan memberikan ranking terbaik di setiap semester.

SMA, tulisan saya juga kerap dimasukkan ke dalam majalah sekolah. Bahkan hampir keseluruhan tugas bahasa yang berkelompok, semua kawan percaya pada apa yang saya tulis. Saya teringat dengan tugas drama yang super lucu yang skenario serta narasi yang saya tulis waktu itu, saya menuliskan cerita tentang reinkarnasi. Dan semua yang memerankan percaya dan antusias begitu saja. Padahal itu hanya imajinasi pikiran semata.

Kembali ke topik, healing. Sejatinya manusia sudah diberi alat khusus didalam dirinya untuk melakukan reset tubuh/detoks serta menyembuhkan diri sendiri. Kini marak disebut dengan self healing.

Ketika kuliah, saya pernah berkunjung dan konsultasi pada psikolog senior di klinik medical centre kampus. Di sana saya mengeluhkan relationship yang tak pernah berjalan mulus. Hampir setiap dekat dengan orang, selalu ada crashed walau pun sebatas sahabat. Saya punya sahabat di kampus ITB, dari SMA berteman baik namun ketika saya sudah masuk ITS, ada problem dan kami ‘putus’ -lebih tepatnya saya yang memutuskan secara sepihak.

Kemudian menjelang berakhirnya bangku S1, juga demikian, saya dihadapkan dengan perasaan takut yang tak beralasan untuk menatap masa depan. Akhirnya setelah terapi, saya kembali normal dan merasa ringan. Ucapan psikolog tersebut masih saya ingat kuat, “terapi ini tak akan berhasil jika diri Anda tak mengizinkan untuk yakin dan mampu.”

Artinya, penyembuh yang terbaik sebenarnya adalah diri kita sendiri. Hanya saja, kita perlu belajar bagaimana membuka dan merelase pikiran dengan ilmu dan mempelajari tools dengan baik sebelum menggunakannya.

Tools yang paling efektif buat saya adalah menulis. Itulah kenapa saya menggunakan platform yang panjang seperti blog dibandingkan media sosial, karena di sini jauh lebih bebas dan mudah saya menuangkan cerita dibandingkan dengan platfrom lain. Sedangkan untuk menulis buku atau cerita yang serius, tentu effortnya berbeda dengan free writing semacam menulis pada pos seperti ini.

Pagi tadi, saya membaca sekilas media sosial yang entah kenapa kok ya nyangkut pada laman discovery instagram. Mulai dari berita Azriel-Aurel berseteru dengan KD ibu kandungnya, berita Reino Barack melaporkan tindakan fitnah yang dilancungkan oleh netizen pembenci Syahrini dan beberapa berita dari luar Negeri seperti postingan Trump yang diboikot oleh snapchat dan twitter. So, what for? Ngapain baca yang terlintas di sana? Entahlah, yang jelas udah telanjur baca dan menonton ya sudah. haha.

Banyak hal yang menjadi pelajaran dari cerita para public figur itu, setiap kali saya hendak menuliskan sesuatu, apalagi di sosial media saya jadi berpikir ribuan kali. Perlu ribuan kali menata kata sebelum membuat postingannya. Perlu otak yang waras, ilmu, akal dan cek konsekuensi-konsekuensi.

Saya pernah mengalami hal ini ketika awal mula Komunitas KonMari dibubarkan secara sepihak oleh sosok yang bernama Shoko (salah satu tim media KonMari) padahal sebelumnya saya tak pernah bersurel dengannya. Sementara tim KonMari yang lain malah baik saja, bahasanya santun dan tetap mengizinkan saya membuat buku dengan mencantumkan judul KonMari tersebut.

Pada saat itu, saya menuangkan segala pikiran dan kekecewaan saya pada postingan di akun instagram personal. Efeknya semua orang bertanya serta ikut kecewa. Beberapa ada yang menyayangkan karena sudah melekat branding diri saya berbenah KonMari. Daripada menjadi tampungan banyak pro-kontra akhirnya saya pindahkan uneg-uneg tersebut ke blog ini. Kemudian saya belajar menata kalimat ulang dan saya rapikan sehingga lebih terasa netral.

Bagi saya, menulis sama seperti mengembuskan napas. Ada kalanya kita keluarkan, ada kalanya menarik intisari dan menerima feedback dari apa yang kita embuskan.

Dari menulis pula, saya merasa lebih bertumbuh. Melalui pikiran dan kata-kata dari buku yang pernah saya baca dan sedang saya baca. Bahkan beberapa buku lebih sering saya temui sebagai ‘penghibur’ jiwa dibandingkan sebagai pusat informasi semata.

Menulis merupakan kebutuhan saya. Sama seperti makan dan minum, jika sehari saja, saya tak menulis (bebas) bisa dipastikan baterai saya akan drop dan saya tak lagi bersemangat. Namun ketika sudah menulis dan menuangkan uneg-uneg, hati saya terasa lebih nyaman, candu yang kadang berujung pada lupa lingkungan sekitar hahaha. Bukan hanya berupa ketikan tangan, namun juga goresan pena. Intinya adalah pena ini, ketikan ini seperti lokomotif kereta, ia mewakili kepala dan mulut untuk berbicara.

Belajar menulis sama seperti belajar berkata-kata. Karena tulisan yang dituangkan akan merasuk mengendap di kepala. Ada kalanya perlu diedit, ada kalanya dibiarkan begitu saja dan waktu yang akan mengubah semua dengan menyaksikan pertumbuhan sikap diri. Apakah semakin bijak dari hari ke hari?

Dan tetap poin utama adalah membaca. Karena gaya bahasa kita juga ditentukan oleh buku-buku atau kata yang sering kita baca. Maka, membaca buku yang tepat akan menghasilkan tulisan yang akurat dan sarat makna. Nilai tulisan adalah bukti otentik dari hasil membaca kita.

Menulis sama seperti melepaskan beban, manfaatnya besar sekali. Saya pribadi tak pernah menggunakan obat-obatan ketika penyakit psikis menyerang, justru obatnya adalah dengan menuliskan. Maka dari itu, writing for healing menjadi bagian penting dalam keseharian diri.

Saran saya, ayo menulis. Karena menulis merupakan saudara kembar membaca. Maka dipastikan bahwa menjadi seorang penulis, tentu harus banyak baca.

Semangat menyambut hari-hari. Semangat lebih baik hari ini.


Beberapa buku karya saya yang sudah terbit di tahun 2018-2019 :

  1. KonMari Mengubah Hidupku (Bentang Pustaka, 2018)
  2. Gemar Rapi, Metode Berbenahnya Indonesia (Bentang Pustaka, 2019)
  3. Sejuta Cerita Kita (Motivaksi Inspira, 2019)
  4. Membangun Budaya Gemar Rapi (Ihsan Media, 2019)
  5. Ibu, Rampai Kata Menyimpul Rasa (Komunitas Ibu Profesional Bogor, 2019)
  6. Klausa Cinta Pertama (Teman Nulis, 2019)

3 thoughts on “Writing for Healing”

  1. Sama mba… saya juga menulis untuk release emosi. Semoga dengan menulis, kita bisa berdamai dengan masa lalu dan meringankan masalah yang ada. Aamiin…

  2. “Writing for healing”, saya sepakat dengan frase tersebut. Itulah salah satu alasan yang mendorong saya menulis di blog (maupun mengunjungi blog-blog orang lain). Ada kenikmatan tersendiri saat menuangkan apa yang ada dalam pikiran, tentang pengalaman pribadi dan refleksinya, berserta konteks emosinya. Tahu-tahu penat pun hilang.

    By the way, blognya bagus template barunya mba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *