DAILY EDUKASI

Yang Terbungkam dalam Bahasa

Ini post blog part. 2 dari seri dalam zoominar dari ITB, September lalu. Maafkan, ngetiknya nyicil, karena bergantung dari mood membuka blog ini.

Oia, bagi yang belum baca part. 1 bisa klik disini atau klik https://khoirunnikmah.com/otak-dan-tanda-bahasa-dalam-keadaban-bangsa/

Part 2 ini menghadirkan pembicara yang sudah tak asing, sering banget melalang buana di Televisi, beliau adalah Dr. Acep Iwan Saidi, S.S, M.Hum seorang ahli Semiotika, Dosen ITB.

Beliau mengawali pembahasan dengan penjelasan fungsi utama bahasa.

Sesuai dengan pembahasan di awal (introduction di part 1 dari Pak Akmal Nosery Basral -Beliau sebagai moderator di sini) tentang Adam yang Allah ciptakan dan ilhamkan untuk melihat benda-benda dan memberikannya bahasa. sehingga setiap anak adam akan terbebas dari kehadiran benda-benda itu. Misalnya tak perlu membawa matahari untuk menjelaskan ke orang, bahwa yang bersinar terang adalah matahari. Dalam hal ini bahasa berarti memindahkan realita ke dalam otak.

Bahasa tak bisa lepas atau tak terpisahkan dari manusia sehingga fungsi utama adalah bahasa sebagai subjek.

Dalam teori-teorinya bisa diartikan bahwa manusia adalah hewan yang berbahasa/berbicara. Artinya ia berfungsi untuk berkomunikasi, berinteraksi. Sehingga jika ada manusia bicara dengan manusia artinya adalah pertemuan antara subjek.

Orang pertama yang mengenalkan makna bahasa kedalam bahasa melayu adalah Raja Ali Haji (nama pena). Nama aslinya Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad.

Raja Ali Haji adalah ulama, sejarawan, dan pujangga abad 19 keturunan Bugis dan Melayu. Dia terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu.

Raja Ali Haji menjelaskan bahwa ‘Anda adalah apa yang Anda katakan.’ sehingga maknanya bisa luas, yaitu bahasa adalah mencerminkan bangsa. Sebagai apakah kita ?

Subyek adalah apa keahlian kita.

Objek adalah apa yang kita bicarakan.

Sayangnya dalam lingkup pendidikan, kita malah diajarkan bahasa sebagaimana pelajaran eksak lainnya (Matematika, ada rumusnya. Misal S+P+O+K). Hal ini tidak lepas dari perkembangan politik di tanah air. Dimana dulu, berbahasa adalah hal penting untuk memamahi sesuatu berdasar subjek yang luas.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pada sumpah pemuda, bahas diikrarkan, dalam politik perjaungan, bahasa dikumandangkan oleh para pejuang (dalam hal ini adalah pemuda, sehingga pemuda saat itu mempunyai kesadaran terhadap keberagaman bahasa merasa senasib, sehingga bersatu).

Ruh dari nasionalisme adalah kultur (budaya), sedangkan politik perjuangan hanya sebagai alat yang tertera di pancasila ke – 3. Yaitu jejak budayanya dengan kata ‘persatuan’ bukan ‘kesatuan’.

Kenapa demikian? Karena kata ‘kesatuan’ adalah sifat politik (satu). Dimana selalu ditemukan intrik untuk hal ini, sama seperti di awal penyebutan ‘Negara Kesatuan’ (Nasakom) yaitu ambisi kekuasaan sehingga ada keinginan untuk semua harus bersatu dalam satu komando (ambisi menyatukan, dari nasakom). Sedangkan persatuan adalah bagian dari kebudayaan. Itulah kenapa berubah katanya dari kesatuan ke persatuan. Karena bersifat penyatuan dan bagian dari sumpah pemuda yang melihat budaya Indonesia, itulah kenapa akhinya dinamakan fakultas ilmu budaya untuk jurusan sastra Indonesia.

Lantas bagaimana cara pemuda berbicara saat itu?

Terkait ujaran individu, tahun 40-50an ada individu yang berani mengungkapkan ke penguasa melalui bahasa yaitu Khairil Anwar.

Pada ORBA, semua berubah, relasi dari dunia luar plus moderninasi membuat bahasa Indonesia ‘asli’ harus ‘dibersihkan’. Dari kultural, diubah menjadi EYD (sekarang PUEBI namanya). Bahasa sengaja ‘disterilkan’ melalui sistim pendidikan dimana kita pasti ngantuk dalam pelajaran Bahasa yang sudah jadi ‘eksak’ dari zaman SD-SMA. Tak ada bedanya dengan pelajaran eksak lainnya.

ORBA berhasil untuk melakukan strategi kebudaya untuk mencerabut kebudayaan itu sendiri.

Hingga pada akhirnya 1998, tumbang.

Di era gusdur dan mega disebut kurang berhasil karena tidak satu frekuensi. Gusdur asyik dengan bahasa yang ada dalam pusaran pikirannya sendiri, sedangkan Mega melakukan politik diam dimana ini merupakan titik terlemah dalam pengeolaan berbahasa. Dan MPR tidak ikut bermain dalam berbahasa ini.

Di Era SBY, menari dalam berbahasa artinya ia pemimpin yang suka bicara, curhat sehingga membentuk tarian bahasa yang diikuti seperti karya beliau tentang lagu. Tapi SBY termasuk pemimpin yang peduli dengan suara rakyatnya dan memberikan keamanan dalam berbahasa sebagai bukti opini publik. Bahkan tak ada satupun ya dipenjara hanya karena ujaran kebencian.

Di era Jkw, ibarat menabuh, itu gamelan terus menerus ditabuh, ke dalam tim sendiri, beliau orang yang suka menyenangi dalam perbincangan, menciptakan bahasa terus menerus (selalu ada kata-kata baru), muncul dalam bentuk ujaran (meme).

Kemudian, di masa pandemi ini kita hidup dengan tradisi lisan digital.

Di era digital , sebaiknya berhati-hati dalam memberikan pendapat terutama yang bersifat publik. Untuk materi, teman-teman pembaca bisa mengunduhnya di sini.

1 thought on “Yang Terbungkam dalam Bahasa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *